Saturday, April 4, 2015

The Other Self

Hey guys. Balik lagi sama cerpen abal-abalku. Sebenernya ini sekalian curhat. Hehe. Yaudah deh langsung aja ya. Maaf kalo ada typo .-.v Kritik dan comment sangat di perlukan.
The Other Self
Aku berjalan menyusuri koridor yang mengarahkan aku menuju kelasku. Tatapan semua orang mengarah padaku yang ku balas dengan tampang datarku. Aku menghempaskan diriku terduduk di kursiku. Ku arahkan pandanganku ke sekitar kelas. Ada kelompok cowok-cowok dan salah satu kelompok cewek yang berisikan Ify, Irva, Via, Zevana, dan Dea di barisan kiri. Sedangkan di barisan kanan ada salah satu kelompok cewek yang berisikan Gita, Aren, Keke, Acha, dan Angel. Ada juga musuhku Oik yang duduk bersama Rahmi di depan mereka. Sedangkan di belakangku adalah kelompok cewek-cewek populer. Sejenak, aku menatap ke arah Alvin, kekasihku. Tatapannya terasa meneduhkanku. Ya siapa yang mau berteman dengan gadis sepertiku? Muram dan tak peduli. Ya sejujurnya aku yang menjauhi mereka, mendirikan dinding tebal di antara aku dan mereka. Aku mengeluarkan buku biruku dan mulai menulis. Terkesan nerd bukan? Ya begitulah. Tinta hitam dari pulpenku mulai ku goreskan ke lembaran demi lembaran di buku ku. Beginilah aku melewati pagiku. Disaat mereka tertawa bahagia atas hal-hal yang aneh dan aku hanya tersenyum sinis di kursiku. Social life is such a bullshit. Lebih baik menyendiri
"Shil." Aku menoleh ke depan. Dia adalah salah satu orang dari dua orang yang dapat berbicara denganku. Aku menoleh dan tersenyum.
"Udah sampai chapter berapa Shil?" Tanyanya melihatku kembali menulis ceritaku.
"Chapter 11. Chase udah hampir ketangkap loh, Zah."
"Kalau udah selesai tulis aku baca ya." Ia memandangku seraya mengedipkan matanya membuatku tertawa kecil.
"Siap mama." Balasku meledeknya.
----------
"Shil. Sabtu ada waktu? Debo mengajak The Alayers buat nongkrong bareng." Suara itu keluar dari Ify. Teman sebelahku. Ucapan itu melengkungkan bibirku membentuk selengkung senyuman sinis.
"Nona Trifia yang terhormat, aku bukan anggota The Alayers lagi okay?"
"Shil please lah."
"Kamu dan Debo yang merubahku menjadi seperti ini." Aku berdiri meminta izin untuk ke toilet. Sungguh aku muak dengan hidup aku.
The Alayers kelompok persahabatan yang dulunya berisikan aku, Ify, Agni, Alvin, Debo, Rio. Tapi Ify dan Debo kemudian membuat aku memutuskan bahwa aku bukanlah lagi bagian dari The Alayers. Mereka juga lah alasan dibalik sifat dinginku.
Sepanjang waktu di sekolah adalah waktu neraka bagiku. Waktu yang membuatku harus menahan gejolak emosi dalam diriku.
"Shil. Mau pulang bareng?" Alvin menawariku.
"Aku dijemput kakak, Vin. Tapi aku butuh kamu. Nanti sore aku ke rumahmu.".
"Baiklah. Aku tunggu." Ia mengacak rambutku lembut. Dia yang membuat aku merasakan kasih sayang yang tak kurasakan dari yang lainnya. Ia menarikku ke dalam rangkulannya, berbisik pelan, "I know you're strong, girl. And I want you to know that you'll always have my back."
"Thanks, Vin." Aku menggenggam tangannya erat seolah tak ingin melepaskannya. Aku mengantarnya sampai ke parkiran motor dan berpisah disana.
"Bye, Vin. Be careful. I love you."
"I love you too."
----------
Sore harinya aku telah sampai dirumah Alvin. Ia bukan hanya sosok seorang kekasih, tetapi juga koko dan sahabat. Aku beruntung memilikkinya yang selalu sabar dengan sikapku. Setiap aku merasakan kesedihan dia pasti ada untukku. Seperti saat ini misalnya.
"Shil, kamu gak capek? Kamu gak sakit gini terus? Aku tahu ini beneran bukan kamu. Mau segimanapun kamu nutupin, kamu tetaplah kamu yang care, yang peduli." Alvin berujar pelan, membelai rambutku lembut.
"Kamu aja yang nggak percaya aku. Yang lain juga tahu sekarang aku ini cuma cewek ngeselin dan gak peduli satu sama lain." Aku membalasnya ringan.
"Itu mereka? Orang bodoh yang mengira mereka mengenalmu tetapi tidak. Shil. Kamu dulu gak kayak gini dan aku yakin dulu adalah pribadi kamu yang sebenarnya." Aku merebahkan kepalaku di kakinya. Memejamkan mata dan menghela nafas.
"Kamu sendiri tahu apa yang membuatku seperti ini, Vin." Ku coba menekan emosiku, mencegah jatuhnya air mata. Tak lagi-lagi aku merepotkannya dengan tangisanku. Jujur saja iya. Aku perih, menjadi diri yang sebenarnya bukan lah aku, aku perih.
"Kamu gak mau berbaikkan dan kembali seperti dulu?" Tanya Alvin pelan. Aku lagi-lagi tersenyum sinis.
"Buat apa?" Aku tertawa hambar, "aku pernah peduli tapi kemudian kepedulianku tak dihargai sama sekali. Dan malah dianggap salah, mungkin lebih baik menjadi orang cuek. Lagi pula aku sudah bilang, aku tak akan memulai sebelum Debo yang meminta maaf padaku. Lagi pula kalaupun dia minta maaf aku tak yakin dia akan menerima maaf dari ku."

-Flashback-
"Deb! Baca nih chat aku sama Ify! Puas?!! Sorry aku gak bisa sopan lagi sama kamu! Aku udah pernah bilang jangan pernah nyakitin Ify! Ify sayang sama kamu sekarang apa balasan kamu?! Cuma bisa bikin dia nangis! Asal kamu tahu ya dia tuh tegar. Sebelum pacaran dia gak pernah nangis sesering sekarang! Bisa ngertiin dia gak sih woi!! Cowok macam apa sih nyakitin cewek terus?!!!" Bentakku pada Debo. Udah cukup aku melihat Ify nangis. Aku tak bisa.
"Shil. Udah lah cukup." Ify terus menarik tanganku untuk menjauh dari Debo. Tak habis pikir dengannya. Cewek setegar dia bisa lemah cuma gara-gara cowok kayak gini.
"Kalau bukan karena Ify, udah ku pastikan kamu akan dendam dengan kata-kataku yang mengoyak hatimu?" Aku menunjuk-nunjuk kearahnya sesaat sebelum meninggalkannya.
"Nih Deb. Cuma mau kasi lihat ini. Gak mau ngomel kok. Cuma mau nunjukkin ke kamu seberapa terlukanya Ify. Aku pulang dulu." Aku menyerahkan lembaran hasil print screenshot chat aku dengan Ify. Tertulis bahwa Ify sakit dan lelah dengan perlakuan Debo tetapi masih tak rela melepasnya. Setelah menyerahkannya, aku berjalan pulang. Memang jarak rumahku ke rumah Debo tak jauh. Hanya terpisah beberapa blok.
Tak lama kemudian dering handphone-ku mendendangkan lagu Little Things-nya One Direction. Lagu favorite aku dan Ify dari boyband One Direction. Tertera nama Ify️ di layar handphone-ku.
"Hallo."
"Shil"
"Ya?"
"Please jangan marahin dia, aku minta tolong. Biarin aja."
"Aku nggak marahin dia kok."
"Dia udah kasi aku penjelasan. Gak usah chat dia."
"Okay okay. Kalau ada apa-apa lagi gak usah cari aku. Percuma. Niat baik aku gak di hargai. Dianggap salah terus."
"Bukan gitu. Aku curhat ke kamu cuma untuk kamu tahu. Bukan untuk di apa-apain. Kamu bilang temen harus saling tahu kan? Dan gak ada rahasia diantara kita."
"Terserah"
*klik*
Aku memutuskan koneksiku dengan Ify. Menghela nafas berat. Dia tak mengerti aku menyayanginya. Membelanya untuk kebaikkannya dan tak dihargai. Terserah dia saja. Ah. Alvin belum bangun. Lebih baik aku baca novel saja.
Tak lama kemudian Alvin line aku.
-----
Alvin
·         Pagii shillonggkuuu
·         Oh ya nih Ify suruh aku sampaiin itu
·         Tolong blg ke shilla klo aku bukan nggak hargain bantuan dia. selama ini aku curhat ke dia cuma ingin dia tau. krn aku tau klo sahabatan itu ga ada yg namanya rahasia. klo masalah itu ditanggung bersama. sama" sedih, sama" senang. aku bukan gmn larang dia chat Debo, cuma tau kan klo shilla chat org klo udh marah sma org tu bikin sakit hati. Debo jg udh jelasin ke aku dan aku udh coba untuk lebih mengerti. jadi tolong blg ke shilla dlm waktu kyk gini tolong jangan chat debo dlu. beri dia waktu, dia capek. kasian dia
Keyshilla
ü  Aku uda tau kok Vin. Td dia chat aku. Sngja gak ku baca. Males. Slalu salah.
-----
Aku beralih membuka chat line Ify.

Keyshilla
ü  Km blg aku mrh bikin sakit hati? Aku sm skli ga marah sm dia. Apadeh. Salah mulu perasaan. Terserah kamu la urus aja mslh km sndri. Ga ikut cmpur lg. Slalu salah akunya.
Trifia
·         Gatau laa shil.
·         Aku ga prnh blg km yg slh. Km sndri ygvslalu mrasa.
Keyshilla
ü  Emg dgn kyk gini ga nunjukkin? Ga ada marah debo tb" blg gausa marahin debo. Aku kyk gni demi siapa? Kamu. Ak syg sm km gamau km sakit hati trus krna dia. Karna km shbt aku dan dia bkn.
Trifia
·         Aku tau
·         Aku gatau kamu marah dia atau ngga
·         Tp aku cm mnta tlg sm km skg dibiarin aja la
Keyshilla
ü  Tp km uda nuduh duluan. Emgny ga skit hati. Klo ak ga gtu artinya ak ud g pduli sm km Fy
Trifia
·         Apa yg ak omongin sm apa yg km omongin jg psti beda.
Keyshilla
ü  Eh aku cm krim screenshot line kita ya. Gk ku tambah"in. Kok fitnah bgt sih. Smua yg aku krimin itu screenshot kita Fy. Tuhkan lihat. Aku yg slalu salah buat km!
Trifia
·         Km ga salah
·         Ak cm mnta satu hal ini aku bnr" mohon sm km
·         Aku hargain apa yg km ud buat utk ak. Km syg sm ak. Km pduli sm ak. Ga ada shbt lain yg smpe sgininya buat aku
Keyshilla
ü  Whatever la fy. Jadi org yg peduli salah jangan salahin aku klo aku sampe cuek setelah ini. Klo sampe aku ga pduli lg sm sekitar aku itu bukan salah aku. Tp karna km yg mnta aku buat ga pduli
Trifia
·         Mulai skg klo ada mslh aku akan coba buat selesaiin sendiri.
·         Aku ga akan repotin km lg.
Keyshilla
ü  Baguslah
ü  Karna aku jg capek jd org yg trlalu pduli
Trifia
·         Makasi slama ini ud bntu aku
·         Klo km ada mslh ak akan slalu ad buat km
-----
-flashback end-
"Kenapa?" Alvin bertanya saat merasakan nafasku mulai menderu.
"Semua itu begitu drastis, Vin. Dalam waktu sehari aku berubah. Dan ya. Aku nyaman sama aku yang sekarang. Kadang terasa menyakitkan untuk menjadi seorang yang bukan pribadi asli dari diri kita. Tapi ini lebih baik daripada menjadi peduli dan gak di hargai dan dianggap salah. Lebih sakit lagi. Lebih melelahkan. Aku bisa jalanin hidup seperti ini. It's about our decision. Kalau aku lebih pilih seperti ini, maka aku yakin aku pun akan lebih senang jika seperti ini. Selama aku masih ada kamu, Agni, dan Zahra, it's enough."
"Shil. Aku dukung apapun keputusanmu. Kamu hanya perlu tahu satu hal. Aku, Alvinathan Xavier akan selalu disini, gak akan pernah ninggalin kamu." Ia tersenyum menatap mataku, meyakinkanku dengan semua perkataannya.
"Promise me?"
"Promise you."
Aku terduduk dan langsung mendekapnya erat. Begitu erat.
Ia mengecup keningku sejenak.
"I love you, Keyshilla Damanic."
"I love you too, Alvinathan Xavier."
"And I love you more."
Mungkin bagi seluruh dunia, aku adalah Shilla yang berbeda dari sebelumnya. Aku yang sekarang adalah Shilla yang cuek, sinis, tak peduli dengan apapun, dan dingin. Tapi bagi orang-orang terdekatku, aku masih Shilla yang dulu. Shilla yang penyayang, ceria, supel, enak diajak bergaul. Hanya saja hal yang terjadi di dalam hidupku mampu merubahku menjadi seperti ini. Kekecewaan menjadi orang yang selalu disalahkan membuat Shilla yang hangat menjadi Shilla yang dingin. Shilla yang tersenyum tulus menjadi Shilla yang tersenyum sinis.
Bagiku, kekecewaan mampu merubah siapa saja. Aku, kau, dia, mereka, kita, dan semua orang. Merubah pribadi yang baik menjadi yang buruk seperti yang terjadi padaku. Siapa yang tidak tahu apa yang terjadi maka akan men-judge aku. Tapi orang yang setia padaku, orang yang tahu cerita dibalik pribadiku yang sekarang, orang yang mampu mengertiku, adalah orang-orang yang paham bahwa aku berubah karena hal yang mengecewakanku.
Kuantitas bukanlah hal yang penting dalam pertemanan. Tapi kualitas lah hal yang penting. Tak butuh banyak orang yang selalu menyalahkanku dan tidak mengerti bagaimana caraku menyayangi mereka, lebih baik bersama sedikit orang yang mengerti caraku menyayangi. Cara setiap orang untuk menyayangi sesama tidak lah sama. Hargai lah orang yang menyayangimu, sebelum ia menjadi dingin dan tak peduli lagi padamu.
“Vin, do you believe that I really love them?”
Yup. I do believe you. Mungkin cara kamu yang berbeda, yang frontal, yang membuat mereka berpikir bahwa kamu tak menyayangi mereka. Tapi jujur saja, menurutku, caramu menyayangi kami semua lebih dari cara semua orang. Kamu bersikap keras, tapi semua orang, yang bisa mengertinya tentu saja, akan paham kalau kamu sayang sama kami.” Ia mengacak rambutku pelan, memelukku erat, mengerti aku membutuhkan dukungan.
Thanks Alvin. I love you.”
“Sudah ku bilang I love you more.”
No, I love you more.”
I love you more, ihhh Alvin.”
No.. I love you moreee
“Iyadeh Shilla ngalah.”
“Gitu dong Shillongku.” Ia memelukku erat dan mengecup pipi kananku.

See. Kualitas melebihi kuantitas. Aku bisa bahagia meskipun yang ada untukku hanya Alvin, Zahra dan Agni. Aku percaya mereka takkan mengecewakanku seperti Ify. Aku yakin itu.

---
Ini cerita ngebet dah. kalau gak jelas wajar. dari pengalaman pribadi :p Comment dan kritik ya. bisa juga ke twitter @SherlSherlen. thankyouu

Friday, January 9, 2015

Kau Yang Terhebat

Holaa. Udah hampir setahun aku gak posting. Happy new yearr guizee #telat
Okay. Kali ini aku datang dengan puisi. Bukan cerpen, okay? Ini cuma penggalan puisi singkat berisi curhatan tentang guru. Amatir dalam membuat puisi sih tapi gapapalah post aja.-.
Cekidot
---
Kau Yang Terhebat

Kau yang tak kenal penat,
Semangat yang terus menggelora,
Bibir tak henti terukir lengkungan,
Aku menyayangimu.

Cahayamu menerangi kegelapan,
Pelitamu tak henti menuntun,
Nama yang kan slalu harum,
Dan hidup di dalamku.

Kau yang tak henti,
Terus membangun bagi kaum cendekia,
Yang selalu melontarkan banyak,
Tak lelah menghadapiku.

Tak ada jua yang dapat ku balas,
Setitikpun terasa derita,
Duka atas rasa kehilanganmu,
Namun kau takkan lepas dari ingatan.

Kau yang selamanya,
Seorang jasa tanpa jejak,
Tak lekang oleh waktu,
Kau tetap terhebat.

Thursday, February 6, 2014

Tentang Kita (Sekuel Destiny)

Nah, gue gak mau pakai lama. langsung aja juga ya gue post sekuelnya Destiny. love mwah.. Sorry juga ya kalau ada typo nama ga keganti dll. gue cuma manusia biasa kok (cieelah) hope you like it guizee.. comment dan kritik sangat diharapkan. bisa di kolom komentar atau langsung di twitter ke @Sher_Sherlen. thanks guizee.. peacelovemwah buat CaFyLovers.:*

-----


Tentang Kita (Sekuel ‘Destiny’)

"Good morning, dearest." Cakka bersorak seraya membuka tirai jendela kamarku. Aku memang kembali kerumahnya saat kami tunangan.
"Silau, Kka." Protesku.
"Heh? Biasanya kamu lebih awal bangun sayang, kok hari ini males banget sih?" Godanya.
Aku membuka mataku dan menatapnya seraya cemberut.
"Aku capek, sayang. Biarin aku istirahat dulu, Kka."
"Nggak. Hari ini kita jalan-jalan yuk."
"Capek."
"Ini udah jam 8 tahu." Ujarnya cemberut sambil tiduran disebelahku dan memainkan rambutku. Aku sangat senang ia perlakukan seperti itu. Sikapku berubah menjadi sangat manja. Aku berbalik menghadapnya -sebelumnya aku membelakanginya- dan memeluknya erat. Serta ku sandarkan kepalaku di dada bidangnya.
"Semalam mimpi apa? Nyenyak banget." Tanyanya.
Aku menggeleng, "gak inget, Kka."
"Yah.. Kirain mimpiin aku." Aku mendekapnya semakin erat.
"Ngarep banget." Ia mencium keningku tiba-tiba. Hal ini membuatku lebih manja lagi.
"Aku sayang kamu, honey." Ujarnya.
"Me too, dearest." Balasku.
"Don't ever leave me again. I don't have a strength to stay without you. I may look like I'm okay, but I'm dying inside."
"Promise. You thought that I'd moved on. But the fact is I couldn't forget about you. I really love you, dear."
Ia mendekapku balik.
"Yaudah, kamu mandi ya honey, abis sarapan aku mau ajak kamu jalan bareng."
Aku mengangguk. Sebelum ia berjalan keluar dari pintuku, lagi ia mencium keningku. Membuat aku menahan senyumanku dan menutupi semburat merah dikedua pipiku.
"Kamu tutup-tutupi juga kelihatan kalau kamu senyum dan blushing. Bye, honey."
Perfect morning. Aku meraih handukku dan bersiap pergi bersamanya.
***
Cakka's PoV
Semua kejadian berangsur membaik. Telah 3 minggu setelah pertunangan. Kami merencanakan menikah setelah lulus tetapi kedua orang tua kami tak menyetujuinya. Ia mengatakan akan melaksanakan pernikahan kami akhir tahun ini karena bulan Juli tahun depan kami sudah lulus. Setelah kami berdiskusi berdua, kami pun menyanggupinya. Dengan syarat -darinya- kami tidak akan memilikki anak sampai kami selesai kuliah.
Artinya kami masih memilikki 2 bulan sebelum kami resmi menjadi sepasang suami-istri.
Aku menunggunya dimeja makan. Aku tahu ia mandi selalu lama. Ditambah ia kali ini mulai hobby merias wajah. Walaupun ia cantik natural, tetapi semua riasan itu tak membuatnya terlihat menor. Ia tetap natural. Hanya bedak dengan sedikit lip gloss warna bibir membuatnya tampil sangat cantik.
"Hai, Kka. Sorry nunggu lama."
Ia kali ini turun mengenakan dress diatas lutut bewarna biru langit dengan rambutnya yang diurai -ia selalu malas menguncir rambutnya- dengan tas bewarna merah muda -tas kesayangannya- serta senyuman disertai lip gloss warna bibir tipis di bibirnya.
"Ify, you're so beautiful."
"No. Aku gak pernah cantik." Dia selalu insecure dengan dirinya. Padahal bagiku ia sangat teramat cantik, manis, dan menarik.
Kedua bola mata beningnya yang cantik dan senyuman manisnya menjadikan daya tarik tersendiri.
"Okay. You're not beautiful." Ia tersenyum walau aku tahu dia menyimpan duka. Meski insecure, semua perempuan ingin dikatakan cantik.
"But you're awesome, flawless and perfect."
"Gombal!" Ia menarik kursi dan duduk saat aku tiba-tiba mencium pipinya yang menciptakan semburat merah di pipinya.
"Ihh. Cakka. Apasih. Hari ini kamu udah cium kening aku dua kali, pipi aku sekali."
"Karena rasa cinta aku ke kamu begitu besar dan aku gak tahu gimana cara mengungkapkannya." Lagi-lagi semburat merah dikedua pipi serta kuluman senyumannya terlihat.
"Udah ah, Kka. Yuk makan."
***
Ify's PoV
Hari ini Cakka mengajakku ke Mall Central Park. Kami mengelilingi mall. Ia menemaniku shopping dan tak sedikitpun ia jenuh. Malah ia menolongku memilih pakaian yang menurutnya cocok bagiku. Aku heran, saat mencobanya kebanyakkan pilihannya lebih cocok untukku dibandingkan pilihanku. Aku sangat beruntung. Sangat teramat beruntung memilikkinya.
Tak terasa untuk shopping kami telah menghabiskan 4 jam lamanya. Selama itulah ia tak melepaskan tangannya dari pundakku. Bahkan sampai sekarang. Mulai merasa lapar, kamipun pergi ke salah satu foodcourt Jepang favorite kami.
"Kamu mau apa, Fy?" Tanyanya.
"Kamu apa?" Tanyaku balik.
"Aku Beef Teriyaki."
"Yaudah kamu pesan dulu nanti baru temanin aku ke stand disana." Cakka mengangguk.
Aku mengikutinya memesan makanan karena tangannya tak ingin dilepasnya. Sesudahnya memesan, ia menemaniku memesan Grill Salmon Steak, kemudian memesan minuman.
***
Setelah kami menikmati makan siang kami, kamipun beranjak ke Blitz Megaplex. Ternyata film yang akan kami tonton baru saja dimulai 20 menit yang lalu. Mau tak mau kami membeli yang jam 17.10. Untuk menunggu pukul 17.10 yang masih sekitar 3 jam, kami berjalan-jalan lagi. Kami memutuskan pergi ke J.Co dan santai disana sampai 3 jam. Saat bersama dia aku tak lagi diet secara ketat meski masih menjaga kelangsingan tubuhku. Dulunya saat kami masih LDR aku sangat ketat menjalani dietku.
Seperti biasa di J.Co, aku memesan donut oreology dan minuman oreo frappe sedangkan Cakka hanya memesan donut oreology. Aku memutuskan untuk beristirahat sejenak.
***
Cakka's PoV
Fy berpindah duduk disebelahku -sebelumnya dihadapanku- dan menyender kepundakku.
"Kka, aku istirahat dulu ya. Sebentar aja." Aku mengangguk dan merangkulnya. Kami duduk dipojok yang sedikit tertutup sehingga tak kelihatan kebanyakkan orang. Aku menatap wajah polosnya ketika sedang terlelap dan aku sangat menyukainya. Bibir tipisnya yang tak tersenyum, bening matanya yang tak terbuka, tetapi ia tetap terlihat begitu mempesona. Rambutnya yang halus serta hitam. Meski aku tak suka dimainkan rambutku, tetapi aku suka memainkan rambutnya. Dan aku tahu ia pun sangat menyukainya. Jika saja ia tidak sedang terlelap, ia pasti akan menjadi sangat manja terhadapku sekarang.
***
Ify's PoV.
"Fy, bangun yuk. Ify, udah jam 16.50 sekarang." Volume suara Cakka perlahan membesar membangunkanku. Aku mengerjap.
"Kamu bilang tidur sebentar. Dan sebentar yang kamu maksud adalah tidur selama satu setengah jam." Aku tersenyum dengan mata sipit bangun tidur kearahnya.
"Maaf deh."
Ia merapikan rambutku dan itu semua membuatku menjadi manja. Setelah selesai merapikan rambutku kamipun berdiri. Tangan dia siap untuk merangkulku saat aku tiba-tiba berujar, "jangan rangkul-rangkul!"
Wajahnya berubah menjadi cemberut dan jalan duluan didepanku. Aku tersenyum dan menggeleng kepala perlahan. Aku mengejarnya dan membisikkinya kecil.
"Aku gak mau dirangkul karena aku mau gandeng tangan kamu. Maaf deh tadi nadanya kayak ngebentak. Kamu tadi rapiin rambutku, lalu aku jadi manja gini masa kamu ngambek. Nanti aku manja sama siapa?"
Dia tersenyum dan langsung menggandeng tanganku.
"Yuk, sayang."
***
Sebelum kami masuk ke studio, kami membeli popcorn dan hot dog serta coca cola dan fanta. Selera kami dalam hal makanan di bioskop memang berbeda. Dia lebih suka hot dog sedangkan aku pecinta popcorn. Dia suka coca cola sedangkan aku lebih suka fanta. Setelah membeli cemilan kami segera memasukki bioskop.
***
Cakka's PoV
Kami tadi menonton film 'Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck'. Aku akui memang sangat tragis, tetapi Ify nangis hampir disetiap scene sedih.
"Pengen banget Kka punya cowok kayak Zainuddin. Cinta banget dia sama Hayati. True and Forever love banget." Dia masih sibuk bercerita sambil menggandeng tanganku. Setelah menuruni eskalator aku segera membisikkinya.
"I'll be your true and forever love. You ever say to me. You won't be my Juliet and I won't be your Romeo, you won't be my Syahnaz and I won't be your Billy, and now, you won't be my Hayati and I won't be your Zainuddin. We'll create our own story, our own true and forever love story. You'll be my Ify and I will be your Cakka."
"Thanks Cakka." Dia memelukku erat.
"Welcome honey. Kita dinner direstoran aja ya. Gak usah di mall." Ify hanya mengangguk. Kami segera pergi ke basement.
***
Ify's PoV
2 bulan berlalu dan sebentar lagi aku akan menjadi istri dari seorang Cakka. Mami dan papiku telah sampai di Jakarta hari ini. Aku meminta untuk melaksanakan pemberkatan saja. Pemberkatan akan dilaksanakan 5 hari lagi, semua telah dipersiapkan secara baik. Resepsi akan diadakan setelah kami lulus kuliah sehingga aku dapat mengundang teman-temanku dari Pontianak, dia dapat mengundang teman-temannya dari Malang, dan juga teman-teman kami dari Jakarta.
"Mamii! Papii!" Aku berlari turun memeluk mamaku.
"Hai, sayang. Hai kak, gimana Ify disini? Gak ngerepotin kan?"
"Nggaklah, Ver. Aku malah seneng ada Ify disini. Dulu pas Ify pulang 9 bulan aku kesepian banget, Ver."
Tiba-tiba lagu Heart Attack dari Demi Lovato mengalun dari Blackberry-ku menandakan ada telepon. Ternyata dari Kak Agni.
"Hallo kak.."
"..."
"Cakka dikamar deh kayaknya. Aku gak lihat Cakka dari tadi pagi. Mungkin masih..."
"..."
"Hahaha.. Gak mungkin lah kak."
"..."
***
Aku terbangun. Disampingku ada mami, papi, kak Shilla dan kak Rio -suaminya kak Shilla-
"Fy sayang, kamu sadar?" Mamaku memandang khawatir.
"Cakka mana? Cakka. Aku mau lihat Cakka. Aku mau ketemu Cakka! Cakka dimana?!"
Semua terdiam.
"Kenapa kalian diam?! Cakka mana?!!! Ify mau ketemu Cakka!!!!"
"Cakka... Koma di ICU, Fy." Kak Shilla menjawab pelan.
"Kalian bohongggg!!!! Cakka gak mungkin koma! Apalagi sampai masuk ICU! Dia cuma kecelakaan kecil! Iya kan?!!! Bilang sama Ify itu bohong kak!!! Kakkk!!!" Kak Shilla hanya terdiam. Menangis.
"Ify mau ketemu Cakka." Ujarku dengan nada bergetar.
"Tapi kondisi kamu masih kayak gini, Fy."
"Ify gak peduli mi. Ify mau ketemu Cakka."
"Ify mau ketemu Cakka!!! Kalian dengar gak sih?!!!"
"Iya. Nanti kita ketemu Cakka ya. Tapi gak sekarang." Kak Rio mencoba menenangkanku. Tetapi aku bersumpah tak akan ada yang dapat menenangkanku. Dokter menggunakan obat penenangpun tak akan mampu menenangkanku. Aku hanya butuh Cakka.
"Kka...vin..."
***
"Cakka bangun dong. Udah 3 hari kamu tidur terus. Kamu gak pernah tuh tidur sampai 3 hari. Kamu mimpi apa sih? Indah banget ya sampai gak mau lihat aku lagi? Lebih indah dari aku ya?"
***
"Kka, ini hari keempat kamu tidur. Besok kita pemberkatan loh, kamu gak mau jadi suami aku ya? Bangun dong, Kka. I've promise you that I won't leave you anymore. Please don't ever leave me, Kka."
***
"Hari ini harusnya pemberkatan kita Kka. Tapi kamu gak bangun. Jadi ditunda. Apa kamu benar-benar gak mau jadi suami aku? Kamu gak cinta lagi ya sama aku? Kalau kamu gak cinta lagi gak apa, Kka. Kamu boleh membatalkan pertunangan kita, cari yang lebih baik. Tapi kamu harus bangun."
***
"Udah seminggu loh, Kka. Kamu gak bosan tidur terus? Kamu gak kasihan dengar aku, kak Agni, kak Shilla, mama papa kamu nangisin kamu terus? Kamu gak kasihan lihat aku yang serasa gak punya harapan hidup lagi? Kamu tumpuan aku Kka. Disaat aku lemah aku kuat kalau ada kamu. Tapi kenapa kamu gak nguatin aku, Kka? Kenapa malah buat aku semakin lemah dari hari ke hari?"
***
"Kka, ini udah 2 minggu. Besok tahun baru loh. Tanggal 1 Januari 2014. Kamu gak mau habisin tahun baru sama aku? Kamu gak mau ke Puncak sama aku lagi, kasi aku surprise kayak tahun lalu?"
***
"Kka, harusnya ini tahun baru pertama kita sebagai sepasang suami istri. Harusnya kita ada di Puncak sekarang. Kenapa kamu betah banget sih tidur? 2 minggu lebih loh, Kka. Kamu gak capek tidur terus? Kamu gak bosan sama mimpi kamu? Kamu udah gak mau lihat aku lagi?"
***
"Kka. Ini udah sebulan. Sebulan aku gak dengerin semua kata-kata romantis kamu, sebulan aku gak diperlakukan manis oleh kamu. Sebulan gak ada yang muji mata bening dan senyuman aku, meskipun udah pudar juga senyumannya. Hmm. Sebulan gak ada yang mainin rambut aku. Ucapin good morning ke aku. Sebulan gak ada yang manggil aku 'sweetheart', 'honey', 'sayang', 'dear'. Sebulan gak ada yang nyium kening aku. Sebulan gak ada yang peluk dan rangkul aku. Kamu jahat banget ya biarin aku kayak gini. Coba aku aja yang di posisi kamu, kamu di posisi aku. Kan kamu lebih tegar dari aku, Kka. Kka bangun. Aku kangen. Kangen banget sama kamu."
***
"Ini udah 2 bulan. Cakka hanya hidup oleh alat bantu. Kami dari pihak tim medis udah nyerah. Kami memutuskan jika dalam waktu 3x24 jam pasien belum sadar, kami akan melepaskan alat medis kami."
Aku terjatuh mendengar ucapan sang dokter.
"Jangan dok! Jangan bunuh Cakka!!! Jangan!!!!" Kak Shilla dan kak Agni mencoba membantuku berdiri tetapi aku memang sudah tak bertenaga untuk berdiri setelah mendengar ucapan dokter. Sendiku lemas, tulangku menjadi lunak. Air mataku tak dapat keluar lagi.
"Ify, kamu bisa depresi kalau gini terus." Kak Shilla mencoba menguatkan aku.
Aku berlari memasukki ruangan Cakka.
"Kamu mau nikah sama aku kan? Bangun Kka. Kita ukir semua cerita kita. Kamu pernah bilang we'll create our own story, our own true and forever love story. Did you forget, Kka? Did you forget?!!"
***
"Tersisa 2x24 jam, Kka. Bangun. Aku gak siap, Kka. Aku gak siap!!! Aku cinta sama kamu! Aku gak mau kehilangan kamu untuk kedua kalinya! Aku gak siap Cakka Nuraga!!! Aku gak siapp!!!!!! Bangun.. Bangun Kka!! Bangunnnn!!!!!!!!"
***
"Kka, sisa 1x24 jam dan aku akan melihat mereka dan membiarkan mereka melepaskan alat-alat medis. Aku akan melihat kamu diam, terpaku, tak berdaya diatas ranjang dalam ruangan jahanam ini! Kamu tega, Kka ninggalin aku? Kamu tega biarin mama sama papa kamu hidup tanpa kamu? Biarin mereka hidup tanpa anak laki-laki satu-satunya mereka! Penerus keturunan mereka. Memupuskan harapan mereka untuk memilikki cucu dengan nama belakang 'Nuraga' kamu tega? Caralnia memakai nama belakang Sindhunata, orang tua mu merelakannya karena mereka memilikki kamu! Rillatia memakai nama belakang Haling dan orang tuamu juga setuju! Karena mereka punya kamu! Mereka mengira bahwa kamu akan memberikan mereka cucu dengan nama belakang Nuraga!!! Sekarang kamu membiarkan harapan mereka pupus begitu aja? Cakkaa!!! Kamu mau apa? Aku lakukan buat kamu asalkan kamu sadar! Kamu mau aku pergi dari hidup kamu?! Kamu mau cari perempuan lain?! Kamu mau aku matipun aku rela, Cakkaaaa!!!!!!! Bangun..."
***
"3x24 jam sudah berlalu. Saya minta persetujuan kalian untuk melepaskan alat medis dari tubuh pasien."
"Tanpa disetujui kamipun dokter pasti akan melakukannya bukan?! Untuk apa lagi dokter meminta persetujuan kami?! Untuk melukai hati kami?! Untuk membuat kami begitu jahat membiarkan orang yang kami semua cintai mati dengan persetujuan kami di hadapan kami diatas ranjang dalam ruang jahanam itu?! Hah?!!!" Kak Agni memelukku.
"Alvin, Rio! Bawa Carla dan Tata pergi. Kasian mereka. Kondisi emosi Ify gak stabil." Pinta kak Shilla berbisik namun masih dapat ku dengar. Kak Rio dan kak Alvin pun terlihat membawa pergi Tata dan Carla dari lorong rumah sakit.
"Kalau begitu, pelepasan alat medis akan kami lakukan sekarang. Mari suster."
"Dokter!!!" Tante Marisa menahan langkah dokter dan berjalan mendekatiku.
"Beri waktu untuk Ify bersama Cakka sebentar saja. Dan kemudian,... Ka..kami rela." Aku menatap tante Marisa dan ia mengangguk kearahku memberi isyarat untuk masuk.
Aku berjalan pelan menuju ranjang. Dapat ku lihat wajah tenangnya ditutupi masker oksigen. Tubuhnya lemah tak berdaya terpasang alat-alat medis.
"Kka.. Kalau kamu gak bangun, ini terakhir kalinya Kka. Aku gak bisa ngelarang dokter, Kka. Kamu bangun dong. Aku masih belum siap. Selama apapun kami menyiapkan diri. Kami mengatakan kami rela padahal nggak, Kka. Kami gak rela." Aku terdiam. Hanya dapat menangis. Air mataku jatuh tak henti membasahi ranjangnya.

Aku tersesat
Menuju hatimu
Beri aku jalan yang indah
Ijinkan ku lepas penatku
tuk sejenak lelap di bahumu
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya
Tentang cinta yang datang perlahan
Membuatku takut kehilangan
Ku titipkan cahaya terang
Tak padam di dera goda dan masa
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Semoga cinta kita kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya
Dapatkah selamanya kita bersama
Menyatukan perasaan kau dan aku
Dapatkah selamanya kekal abadi
Sesampainya akhir nanti selamanya

Aku bersenandung parau dekat telinganya.
"Kalau ini memang mau kamu, Kka. Jahat ninggalin aku sendiri, mama papa kamu kesepian tanpa kamu, aku akan relakan Kka. Kalau ini memang mau kamu tenang selamanya disana, kami akan relakan, Kka. And the last. You have to know that I really love you, I swear that I'll miss you so damn much. Thanks for everything, udah pernah ngisi hati aku, udah pernah warnai hari-hari aku, udah jadi cowok terhebat kedua setelah papa aku, udah pernah ngelindungi aku dan segalanya. Thanks. And sorry. I love you, Kka."
Aku mengecup keningnya dan memberanikan diri melepaskan first kiss-ku. Aku perlahan menghapus jarak diantara kami. Setelah sekian detik, aku akhirnya berjalan keluar pintu dengan langkah berat..
"Sudah dok, sa..saya rela alat medisnya dilepas."
"Baiklah kalau begitu, mari suster." Setelah semua suster beserta sang dokter masuk, aku terduduk didepan pintu. Goodbye Cakka. You'll stay in my heart. Always. We'll create our story. Our true and forever love story.
***
Author's PoV
"Thanks udah ngelengkapi kebahagiaanku." Seorang laki-laki yang menggendong seorang bayi perempuan mengecup kening wanita diatas ranjang rumah sakit.
"Thanks juga udah selalu ada disamping aku. Kalau saat itu kamu benar-benar pergi, aku gak tahu lagi gimana jadinya aku. Kalau saat itu kamu benar-benar pergi, kita juga gabakal punya permata kecil kita."
"Maafin aku waktu itu buat kamu nangis terus-terusan, buat kamu khawatir. Tapi itu semua terbayar sekarang, Fy. I really really love you."
"Me too, Cakka."
"Jadi siapa nama cucu mama?" Marisa tiba-tiba masuk diikut Alex, Niel dan Vera.
Kedua orang tua baru itu saling berpandangan dan tersenyum.
"Alykka Nuraga." Ujar keduanya kompak.
"Akhirnya ada juga cucu kita yang nama belakangnya Nuraga ya, pa."
"Om Cakka! Tante Ify!!"
"Hai om Cakka dan tante Ify."
"Hallo Kka, Fy."
Alvin, Agnia, Caralnia, Rio, Shilla dan Rillatia masuk keruangan dengan ceria.
"Hallo semua."
"Jadi nama keponakkan kami apa?"
"Iya! Nama dede bayi baru kami siapa om, tan?"
"Alykka Nuraga. Aly dari Alyssa, Kka dari Cakka. Jadi anaknya Alyssa dan Cakka." Jawab Cakka.
"Panggilannya apa?"
"Lyka aja deh supaya simple." Kini Ify yang menjawab.
"Gak nyangka sama kalian. Banyak rintangan, dari LDR, Sivia, sampai Cakka yang nyaris pergi. Tapi kalian masih bertahan." Ujar Shilla kagum.
"Mami boleh gendong?" Tanya Vera yang dianggukki Cakka. Dengan pelan, Cakka memberinya kepada mama mertuanya.
"I've promise that we'll create our forever and true love story. Not as Romeo-Juliet, or Billy-Syahnaz, or even Zainuddin-Hayati. But as Cakka-Ify. Thanks my super woman, my lovely wife, I really love you." Cakka mencium kening Ify setelah berbisik demikian.
"I love you too, my most adorable guy and most lovelable guy."