Wednesday, July 3, 2013

L.O.V.E


Dan cinta? Takdir? Kita takkan tahu pasti. Mencintai tapi bisa saja tak memiliki. Tuhan memiliki garis itu. Garis yang telah ditentukan-Nya. Garis yang hanya Ia sendiri yang tahu. Yang bisa kita lakukan hanya mengikuti jalan-Nya. Termasuk mengikuti jalan-Nya untuk kehilangan orang yang berharga dalam hidup kita. Karena memang, pada dasarnya semua akan merasakan kehilangan, dimana pertemuan akan selalu berujung pada perpisahan.

Aku memandang sendu kearah pemuda itu. Pemuda yang benar-benar termenung seolah tak mempunyai semangat hidup.
"Vin. Sampai kapan lo gini?" Tanyaku pelan.
"Sampai dia jadi milik gue."
"Jangan gila, Vin! Dia tunangan Gabriel!" Bentakku.
"Tapi gue sayang dia!!! Kok lo jadi belain Gabriel sih?!!" Bentaknya balik. Aku tersentak.
"Maksud gue gak gitu Vin. T..tapi Gabriel kan sahabat lo."
"DULU!"
Aku menghela nafas berat.
"Lakukan yang menurut lo benar Vin."
Aku tak lagi bisa menasehati dan mencegahnya. Aku tak lagi dapat membuatnya sadar akan kesalahannya. Terbelenggu kisah buta sebuah cinta, membuatnya perlahan berubah. Dia. Bukan lagi Alvin ku yang dulu ku kenal. Sama sekali bukan Alvin ku lagi. Aku....hanya dapat menahan didalam hati, hanya dapat menahan kata-kata yang berkecamuk dan meronta seolah ingin keluar. Aku....merindukan Alvin ku. Selalu begini. Dulu Zevana, Acha dan sekarang gadis itu. Mengapa dia terlalu buta untuk menyadari sesuatu? Aku akan terus menolongnya. Sahabatku. Aku akan terus ada untuk dia. Tak peduli segimana dia asik sendiri dengan dunianya tentang gadis itu.
---
"Alvin! Stop playing with her! I hate her!" Gadis itu menarik lengan Alvin yang sedang bermain gitar mengiringiku bernyanyi.
"But w.. why? She's my best friend, Via."
"You always spend your time with her! She doesn't love you! She just want your money and after she got that's all, she will leave you!"
"Ehm. You may hate me! But never judge my feel for Alvin! You don't know anything 'bout me!" Bentakku.
"Shilla!"
"What?! Mau belain dia?! Gue tau Vin dia berharga buat lo! Tapi sorry Vin, gue punya harga diri! Dia gak bisa seenak jidat dia ngehakimi perasaan aku untuk kamu! And you! Lo cewek apaan sih?! Cewek kok kayak gini! Gimana ya perasaan Gabriel kalau tau TUNANGANNYA SELINGKUH dengan cowok yang udah Iel anggap SAHABAT! You can't blame him! Karena Alvin gak sepenuhnya salah! Kalau lo tau diri lo gak akan nyelingkuhin Iel."
"STOP IT, ASHILLA ZAHRANTIARA!"
"What?!"
"Dipikir-pikir perkataan Sivia ada benarnya! Lo selalu minta gue beliin ini beliin itu! Boneka-boneka dan kalung lo itu semua dari gue kan?" Air mataku mengalir.
"Gue gak pernah minta Vin! Itu semua bercanda! Tapi lo nanggepin dengan serius dan lo yang bersikukuh beliin gue Vin! Tega lo, Vin!" Aku melepas kalung berbandul hati dengan tulisan 'AlShill' di tengah-tengahnya dan ku kembalikan kepadanya.
"Boneka-bonekanya nanti gue antar ke rumah lo Vin. Thanks Vin! Tapi kalian, kalian gak bisa ngehakimi hati gue, perasaan gue buat Alvin! Kalian gak tau apa yang ada di hati gue!" Aku berlari pulang kerumahku yang tak jauh letaknya dari rumah Alvin.
---
"Shilla.. Shil.. Shilla!" Tak mengindahkan teriakkan Agni, sepupuku sekaligus sahabatku.
Aku membanting figura foto berisikan foto aku berdua Alvin. Enggak! Mereka gak bisa menghakimi perasaan aku! Mereka bahkan tak tahu kalau cinta yang tulus untuk Alvin hanya dari aku! Mereka gak tahu dan gak akan pernah tahu!!!!
Dan kenapa? Kenapa sahabatku-sekaligus orang yang ku cintai- tak memahami perasaanku juga? Malah mengatakan bahwa aku cewek yang hanya mengincar hartanya! Aku meremas keras kertas yang bertuliskan 'AlShill Together Till The End!'
"BULLSHIT!!! GUE GAK PERCAYA LAGI SAMA LO, VIN!!!!"
---
Kenapa? Kenapa manusia bisa buta karena cinta? Kenapa manusia di kontrol oleh bongkahan rasa bernama Cinta? Kenapa bukan rasa cinta itu yang di kontrol oleh manusia? Kenapa manusia seolah bodoh saat mereka jatuh ke dalam perangkap cinta? Kenapa?

Bintang, jawab pertanyaanku ya bintang. Kenapa laki-laki gak peka?
Aku tersenyum perih menatap langit. Mengacungkan jemari telunjuk ku diangkasa mencoba menyatukan beberapa bintang dilangit, menggambar rasi bintangku. Air mataku jatuh. Tak dapat lagi aku mengurungnya. Tak ada suara sedikitpun. Hanya menangis dalam diam. Membiarkan semilir angin berhembus meniup puing-puing kebahagiaan ini. Kebahagiaan yang pernah singgah dihati ini yang kini telah digantikan oleh retakkan kebahagiaan memunculkan sebuah rasa keperihan.
Aku meraih gitar putihku dan mulai memetiknya lembut. Entah karena lagu ini atau bukan, air mataku mengalir semakin deras.

Lelahmu...jadi lelahku juga
Bahagiamu...bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati
Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri
Karena kau tak lihat
Terkadang malaikat tak bersayap
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Siapa yang jadi juaranya
Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian, tetapi kesempatan
Untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Ku percaya diri, cintakulah yang sejati
Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap,
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Siapa yang jadi juaranya
Kau selalu meminta terus kutemani
Dan kau s'lalu bercanda andai wajahku diganti
Melarangku pergi karena tak sanggup sendiri
Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap,
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Aku kan jadi juaranya

"SHILLAAA!!!!"
"Apaaa?" Teriakku malas-malasan.
"Oma! Oma!!"
Agni memberikanku telepon rumah yang ia pegang.
"H..halo oma?"
"....."
Aku menjatuhkan telepon itu. Kali ini aku tak sanggup lagi menahan pedih. Pedih yang lebih pedih dari sebelumnya. Aku berlari meraih I-Phone dan dompetku kemudian beralih kemeja kecil mengambil kunci mobil swift ku dan mengendarainya.
Jalan Cendana Blok B nomor 14! Iya! Ini! Pasti ini!
Aku menekan bel berkali-kali sampai seorang gadis keluar dan membuka pintu. Tanpa memberinya kesempatan untuk berbicara ku tampar keras pipinya.
"Lo bilang gue matre miss Sivia?! SEKARANG SIAPA YANG MATRE?! SETELAH NGURAS HARTA ALVIN LO NINGGALIN ALVIN GITU AJA! LO BUAT DIA TERBANG DAN JATUHIN DIA KE INTI BUMI! LO BENERAN CEWEK SIALAN YANG GAK PUNYA HATI!!!!!"
"Gue? Haha! Dia aja yang kegeeran! Mana ada yang mau sama dia! Yang ada hanya orang yang mau sama HARTA nya."
Lagi-lagi ku mendaratkan tamparan kerasku ke pipinya.
"Hey! Hey! Ada apa ini?"
"Wah. Kebetulan ada lo, Yel." Aku tersenyum melihat wajah gugup Via.
"Hai Iel, lo tau kalung berlambang Alvia yang dikenakan Via itu maksudnya apa? Lo tau siapa yang beliin? Lo tau mobil Ferarri baru Via siapa yang beliin?"
Gabriel menggeleng pelan.
"ALVIN JONATHAN SINDHUNATA! Alvia berarti Alvin-Via, dan lo tahu kan kalau sejak awal Alvin udah suka sama Via? Dan yang lo mesti tahu, 3 bulan ini Via ngehindar dari lo karena dia selingkuh dengan Alvin. Dia berniat ngerampas semua harta Alvin. Dan habis itu dia hempasin Alvin keras! Alvin sahabat lo kan Yel? Lihat apa yang udah dia perbuat sama sahabat lo Yel! Alvin sekarang kritis di ICU karena Via mutusin dia! Via mutusin dia karena udah puas nguras semua harta Alvin!"
Gabriel terlihat mengepal tangannya keras-keras sebelum sedetik kemudian ia menampar keras pipi Via yang sebelumnya sudah memerah karena tamparanku. Ia melepaskan cincin tunangan yang ada di jemarinya dan ia lempar pada Via.
"Mulai sekarang kita gak punya hubungan apa-apa lagi! Besok gue akan bilang ke kedua orang tua gue! Thanks Vi! Thanks!!!"
"Dan gue ngewakilin Alvin! Thanks udah buat dia sakit hati! Lo pantes dapatin ini!!!"
"Shil! Kita ketempat Alvin sekarang!"
Iel segera masuk kursi penumpang mobilku dan segera ku kendarai ke rumah sakit Alshera.
"Oma! Gimana Alvin? Ce Tasya! Ce Nia! Gimanaaa?!!!"
"Al..Alvin koma, Shill."
---
"Alvin. Udah sebulan kamu gak bangun Vin. Bangun. Kamu mimpi apa sih sampai gak mau bangun? Hmm?"
"Kali ini hampir habis dayaku, membuktikan padamu, ada cinta yang nyata, setia hadir setiap hari, tak tega biarkan kau sendiri meski sering kali, kau malah asik sendiri." Aku bersenandung kecil ditelinganya.
"I love you, Alvin." Bisikku lirih.
Ku raba bekas goresan di pergelangan tangan Alvin.
"Ini adalah hal terbodoh yang kamu lakukan Vin. Kamu gak perlu lakukan ini. Karena aku ada Vin. Aku cinta sama kamu."
"Atau ini kebodohan aku? Aku yang tak bernyali mengutarakan perasaan ini sama kamu. Vin! Bangun!"
"Vin.. Lihat nih. Udah ada 31 halaman tulisan-tulisan aku. Tulisan singkat aku tentang menunggu Vin. Menunggu kamu bangun dari tidur kamu."
"Vin. Gabriel udah gak ada hubungan apa-apa lagi sama Via, Oma sedih Vin, dia sekarang stress, cuma bisa diam, ce Tasya sama ce Nia? Mereka kerepotan Vin, jagain kamu dan oma. Kamu tega sama mereka?"
"Dan aku Vin, seandainya kamu bisa lihat aku yang sekarang Vin. Vin.. Bangun.."
Aku membelai lembut rambut dia.
"Shil, ce Tasya mau bicara." Ujar ce Tasya.
"Shil, tim medis nyerah Shil. Alvin sekarang bertahan cuma karena alat-alat itu. Shil, oma udah berusaha ikhlasin, Shil. Gabriel, ce Nia dan cece juga udah coba ikhlasin. Relain ya Shil. Cece mohon. Biarin Alvin pergi dan tenang disana."
Aku terduduk. Sejak kapan aku bisa merelakan orang yang ku cintai pergi? A..aku gak rela. Tapi jika itu terbaik untuk Alvin, aku coba. Vin, aku sayang kamu.
Aku berjalan pelan menuju Alvin.
"Vin, ini ya mau kamu? Kalau iya, aku gak akan cegah lagi Vin. Pergi dengan tenang. Aku akan jaga oma, ce Tasya dan ce Nia Vin. Vin, sebelum kamu pergi, aku tahu kamu dengar. Aku cuma pengen kamu tahu, aku cinta sama kamu Vin. Bukan karena materi kamu, karena ketulusan ini Vin. Ketulusan hati aku. Vin, aku sayang kamu. Sayang banget. Selamat tinggal Vin. Istirahat tenang disana. I love you." Bisikku sangat teramat lirih, aku yakin hanya kami berdua yang bisa mendengar. Ku kecup pelan kening Alvin. Ku pandangi wajah tenang Alvin yang bertutupkan masker oksigen. Tangan Alvin yang bergantung selang infus. Jika ini menyiksa Alvin, jika memang ini yang terbaik. Biarkan aku yang sakit.
Aku menghadap ce Tasya dan mengangguk. Ku berlari memeluknya.
---

Epilog. (Author)
"Chelsea siap?"
"Siap mami. Tapi papi lama."
Shilla tertawa kecil.
"Hei Shilla. Aku siap!"
"Papi lama ihh."
"Yee kan papi bangunnya siang."
"Makanya jangan keboo.." Ledek anak kecil berusia 4 tahun itu.
"Udah, udah.. Kalian ini gak ada kerjaan apa selain ledek-ledekkan. Yuk. Oma, tante Nia sama tante Tasya udah nungguin loh."
"Mi. Emang kita mau kemana? Kok pakaian hitam-hitam gini?" Tanya Chelsea polos.
"Nanti kamu juga tahu sayang. Yuk."
---
"Omaa!" Chelsea berlari memeluk oma.
"Haloo cucu buyut oma yang cantik.."
"Oma siap?" Tanya Shilla.
"Siap. Kita duluan aja. Nia sama Tasya pergi masing-masing."
"Okelah. Yuk oma. Rio udah nunggu di mobil."
---
"Alvin. Lo masih inget kan ya sama gue? Lo tahu? Dari delapan tahun lalu, tiap hari peringatan, gue gak bosan-bosannya baca surat dari lo Vin. Dan ini pertama kalinya gue bawa anak gue sama Rio kesini. Nih Vin. Udah 4 tahun. Namanya Chelsea. Cantik kan? Pasti dong kayak gue. Hehe.. Iya kan?" Shilla menitikkan air matanya. Rio mengusap pelan punggungnya. Chelsea menatap polos tak mengerti. Shilla mengusap pelan papan salib bertuliskan 'Alvin Jonathan Sindhunata' itu. 8 tahun setelah kepergian Alvin, ia tetap merasakan kehilangan. Meski pun 5 tahun yang lalu ia telah menikah dengan laki-laki pilihannya yaitu Rio, meski pun 4 tahun yang lalu buah hati pertamanya telah lahir.
"Vin, gue bacain lagi ya surat dari lo."

Dear Shilla,
Jangan cengeng! Cengeng banget lo! Maaf ya gue gak bisa jadi sahabat yang baik buat lo. Maaf gue ngecewain lo dengan hal sebodoh ini! Maaafff banget. Tapi Shil, gue sayang sama lo. Shilla! Ashilla Zahrantiara! Sahabat gue dari orok! Hehe! Shilla yang gue kenal itu sekuat batu loh Shil! Jatuh dari sepeda aja gak nangis! Jadi ditinggal gue jangan nangis ya. Gue titip oma, ce Tasya sama ce Nia ya. Jangan nangisin gue lagi cengeng! Udah! Hehe. Love you Shil.

With Laff, :p
Sahabat lo yang paling ganteng, kece, keren tapi takluk karena cinta,
Alvin Jonathan Sindhunata.

NB: AlShill! Together till the end! Laffyu.

"Tuh Vin. Lo udah tenang ya? Maaf ya gue masih cengeng. Vin, gue sayang banget sama lo. Lo tetep sahabat terbaik bagi gue. Vin, Alshill will always together till the end. Gak peduli beda dunia Vin. I will always laffyu."
"Vin, Gabriel sekarang sama sepupu gue loh. Hehe. Si Agni itu. Dia bilang sorry gak bisa datang soalnya Agni lahiran. Vin, gue pamit ya. Gue pasti datang terus kalau ada waktu. Bye Vin." Shilla mengecup papan salib itu.
"Benter Shil!" Cegah Rio.
"Chelsea, say hai sama om Alvin."
"Haii om Alvin." Ujar Chelsea polos.
"Vin, dia Chelsea. Dia anak lo juga. Chelsea punya dua papa ya sekarang. Papi Rio dan papi Alvin. Vin, gue emang ayah kandungnya. Tapi gue tahu Shilla juga cinta sama lo. Dan bagi gue karena maminya adalah Shilla, artinya dia anak kita berdua Vin. Thanks ya Vin udah nitipin Shilla ke gue. Istirahat yang tenang ya Vin. Gue pamit Vin. Bye. Chelsea, now say goodbye papi Alvin."
"Goodbye papi Alvin." Shilla memeluk Rio erat, terharu akan sikap suaminya ini.
"Thanks Rio." Bisik Shilla.
Shilla mengecup pelan puncak kepala Chelsea dan menggendongnya.
"Ce Tasya, Ce Nia, Oma, kak Irsyad, kak Kiki, Bagas, Difa kami pamit ya." Ujar Shilla dan Rio.
"Iya hati-hati ya."
"Oma, tante Tasya, tante Nia, Om Irsyad, Om Kiki, kak Bagas, Chelsea pamit ya."
"Kok kak Bagas dipamitin kak Difa enggak?" Goda Rio.
"Papi apaan sih! Kak Difa Chelsea pamit ya. Bye kak Bagas." Bagas anak Tasya hanya senyum dan melambaikan tangan pada Chelsea.
"Cieee anak mami naksir ya sama kak Bagas. Ciee Chelsea."
"Mami apaan sih ahhh!!!" Chelsea menggerutu malu.
Inilah akhirnya.
---
Dear Shilla,
Jangan cengeng! Cengeng banget lo! Maaf ya gue gak bisa jadi sahabat yang baik buat lo. Maaf gue ngecewain lo dengan hal sebodoh ini! Maaafff banget. Tapi Shil, gue sayang sama lo. Shilla! Ashilla Zahrantiara! Sahabat gue dari orok! Hehe! Shilla yang gue kenal itu sekuat batu loh Shil! Jatuh dari sepeda aja gak nangis! Jadi ditinggal gue jangan nangis ya. Gue titip oma, ce Tasya sama ce Nia ya. Jangan nangisin gue lagi cengeng! Udah! Hehe. Love you Shil.

Satu hal adalah, sekuat apapun batu, ia akan terkikis oleh air dan ditinggal orang yang kita sayang itu lebih menyakitkan daripada sekedar jatuh dari sepeda. Karena sakitnya bukan di kaki, tangan, kepala, atau apapun. Tapi sakitnya dihati, didasar jiwa kita.

Dan pada ujungnya semua hanyalah sad ending. Karena apa? Karena setiap kehidupan berujung pada sebuah hal yang disebut 'kematian'. Yang kita bisa hanya memperbesar mental diri untuk menerima perpisahan dengan orang-orang berharga dalam hidup kita. Filosofi orang yang berkata 'Semua pasti happy ending, if it's not, it's not the end.' itu adalah sebuah kesalahan. Karena semua berujung pada 'kematian'.
---
Hello guizee! Thanks for reading yah guize! Hope you like it. Sorry gak ngefeel. Alurnya terlalu terburu. Sorry banget ya.
Note:
-kalimat yang di italic adalah quotes (yang gak banget) dari penulis
-yang di bold adalah surat dari Alvin.
-yang di italic dan bold adalah lirik lagu.
-lagu dalam cerita ini adalah 'Malaikat Juga Tahu' Dewi Lestari.
Thanks all.
Follow: @Sher_Sherlen

No comments:

Post a Comment