Dan cinta? Takdir? Kita takkan tahu pasti. Mencintai
tapi bisa saja tak memiliki. Tuhan memiliki garis itu. Garis yang telah
ditentukan-Nya. Garis yang hanya Ia sendiri yang tahu. Yang bisa kita lakukan
hanya mengikuti jalan-Nya. Termasuk mengikuti jalan-Nya untuk kehilangan orang
yang berharga dalam hidup kita. Karena memang, pada dasarnya semua akan
merasakan kehilangan, dimana pertemuan akan selalu berujung pada perpisahan.
Aku memandang sendu kearah
pemuda itu. Pemuda yang benar-benar termenung seolah tak mempunyai semangat
hidup.
"Vin. Sampai kapan lo
gini?" Tanyaku pelan.
"Sampai dia jadi milik
gue."
"Jangan gila, Vin! Dia
tunangan Gabriel!" Bentakku.
"Tapi gue sayang dia!!!
Kok lo jadi belain Gabriel sih?!!" Bentaknya balik. Aku tersentak.
"Maksud gue gak gitu
Vin. T..tapi Gabriel kan sahabat lo."
"DULU!"
Aku menghela nafas berat.
"Lakukan yang menurut lo
benar Vin."
Aku tak lagi bisa menasehati
dan mencegahnya. Aku tak lagi dapat membuatnya sadar akan kesalahannya.
Terbelenggu kisah buta sebuah cinta, membuatnya perlahan berubah. Dia. Bukan
lagi Alvin ku yang dulu ku kenal. Sama sekali bukan Alvin ku lagi. Aku....hanya
dapat menahan didalam hati, hanya dapat menahan kata-kata yang berkecamuk dan
meronta seolah ingin keluar. Aku....merindukan Alvin ku. Selalu begini. Dulu
Zevana, Acha dan sekarang gadis itu. Mengapa dia terlalu buta untuk menyadari
sesuatu? Aku akan terus menolongnya. Sahabatku. Aku akan terus ada untuk dia.
Tak peduli segimana dia asik sendiri dengan dunianya tentang gadis itu.
---
"Alvin! Stop playing
with her! I hate her!" Gadis itu menarik lengan Alvin yang sedang bermain
gitar mengiringiku bernyanyi.
"But w.. why? She's my
best friend, Via."
"You always spend your
time with her! She doesn't love you! She just want your money and after she got
that's all, she will leave you!"
"Ehm. You may hate me!
But never judge my feel for Alvin! You don't know anything 'bout me!"
Bentakku.
"Shilla!"
"What?! Mau belain dia?!
Gue tau Vin dia berharga buat lo! Tapi sorry Vin, gue punya harga diri! Dia gak
bisa seenak jidat dia ngehakimi perasaan aku untuk kamu! And you! Lo cewek
apaan sih?! Cewek kok kayak gini! Gimana ya perasaan Gabriel kalau tau TUNANGANNYA
SELINGKUH dengan cowok yang udah Iel anggap SAHABAT! You can't blame him!
Karena Alvin gak sepenuhnya salah! Kalau lo tau diri lo gak akan nyelingkuhin
Iel."
"STOP IT, ASHILLA
ZAHRANTIARA!"
"What?!"
"Dipikir-pikir perkataan
Sivia ada benarnya! Lo selalu minta gue beliin ini beliin itu! Boneka-boneka
dan kalung lo itu semua dari gue kan?" Air mataku mengalir.
"Gue gak pernah minta
Vin! Itu semua bercanda! Tapi lo nanggepin dengan serius dan lo yang bersikukuh
beliin gue Vin! Tega lo, Vin!" Aku melepas kalung berbandul hati dengan
tulisan 'AlShill' di tengah-tengahnya dan ku kembalikan kepadanya.
"Boneka-bonekanya nanti
gue antar ke rumah lo Vin. Thanks Vin! Tapi kalian, kalian gak bisa ngehakimi
hati gue, perasaan gue buat Alvin! Kalian gak tau apa yang ada di hati
gue!" Aku berlari pulang kerumahku yang tak jauh letaknya dari rumah
Alvin.
---
"Shilla.. Shil..
Shilla!" Tak mengindahkan teriakkan Agni, sepupuku sekaligus sahabatku.
Aku membanting figura foto
berisikan foto aku berdua Alvin. Enggak! Mereka gak bisa menghakimi perasaan
aku! Mereka bahkan tak tahu kalau cinta yang tulus untuk Alvin hanya dari aku!
Mereka gak tahu dan gak akan pernah tahu!!!!
Dan kenapa? Kenapa
sahabatku-sekaligus orang yang ku cintai- tak memahami perasaanku juga? Malah
mengatakan bahwa aku cewek yang hanya mengincar hartanya! Aku meremas keras
kertas yang bertuliskan 'AlShill Together Till The End!'
"BULLSHIT!!! GUE GAK
PERCAYA LAGI SAMA LO, VIN!!!!"
---
Kenapa? Kenapa manusia bisa buta karena cinta? Kenapa
manusia di kontrol oleh bongkahan rasa bernama Cinta? Kenapa bukan rasa cinta
itu yang di kontrol oleh manusia? Kenapa manusia seolah bodoh saat mereka jatuh
ke dalam perangkap cinta? Kenapa?
Bintang, jawab pertanyaanku
ya bintang. Kenapa laki-laki gak peka?
Aku tersenyum perih menatap
langit. Mengacungkan jemari telunjuk ku diangkasa mencoba menyatukan beberapa
bintang dilangit, menggambar rasi bintangku. Air mataku jatuh. Tak dapat lagi
aku mengurungnya. Tak ada suara sedikitpun. Hanya menangis dalam diam.
Membiarkan semilir angin berhembus meniup puing-puing kebahagiaan ini.
Kebahagiaan yang pernah singgah dihati ini yang kini telah digantikan oleh
retakkan kebahagiaan memunculkan sebuah rasa keperihan.
Aku meraih gitar putihku dan
mulai memetiknya lembut. Entah karena lagu ini atau bukan, air mataku mengalir
semakin deras.
Lelahmu...jadi lelahku juga
Bahagiamu...bahagiaku pasti
Berbagi takdir kita selalu
Kecuali tiap kau jatuh hati
Kali ini hampir habis dayaku
Membuktikan padamu ada cinta yang nyata
Setia hadir setiap hari
Tak tega biarkan kau sendiri
Meski seringkali kau malah asyik sendiri
Karena kau tak lihat
Terkadang malaikat tak bersayap
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Siapa yang jadi juaranya
Hampamu tak kan hilang semalam
Oleh pacar impian, tetapi kesempatan
Untukku yang mungkin tak sempurna
Tapi siap untuk diuji
Ku percaya diri, cintakulah yang sejati
Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap,
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Siapa yang jadi juaranya
Kau selalu meminta terus kutemani
Dan kau s'lalu bercanda andai wajahku
diganti
Melarangku pergi karena tak sanggup
sendiri
Namun tak kau lihat
Terkadang malaikat tak bersayap,
Tak cemerlang, tak rupawan
Namun kasih ini, silakan kau adu
Malaikat juga tahu
Aku kan jadi juaranya
"SHILLAAA!!!!"
"Apaaa?" Teriakku
malas-malasan.
"Oma! Oma!!"
Agni memberikanku telepon
rumah yang ia pegang.
"H..halo oma?"
"....."
Aku menjatuhkan telepon itu.
Kali ini aku tak sanggup lagi menahan pedih. Pedih yang lebih pedih dari
sebelumnya. Aku berlari meraih I-Phone dan dompetku kemudian beralih kemeja
kecil mengambil kunci mobil swift ku dan mengendarainya.
Jalan Cendana Blok B nomor
14! Iya! Ini! Pasti ini!
Aku menekan bel berkali-kali
sampai seorang gadis keluar dan membuka pintu. Tanpa memberinya kesempatan untuk
berbicara ku tampar keras pipinya.
"Lo bilang gue matre
miss Sivia?! SEKARANG SIAPA YANG MATRE?! SETELAH NGURAS HARTA ALVIN LO
NINGGALIN ALVIN GITU AJA! LO BUAT DIA TERBANG DAN JATUHIN DIA KE INTI BUMI! LO
BENERAN CEWEK SIALAN YANG GAK PUNYA HATI!!!!!"
"Gue? Haha! Dia aja yang
kegeeran! Mana ada yang mau sama dia! Yang ada hanya orang yang mau sama HARTA nya."
Lagi-lagi ku mendaratkan
tamparan kerasku ke pipinya.
"Hey! Hey! Ada apa
ini?"
"Wah. Kebetulan ada lo,
Yel." Aku tersenyum melihat wajah gugup Via.
"Hai Iel, lo tau kalung
berlambang Alvia yang dikenakan Via itu maksudnya apa? Lo tau siapa yang
beliin? Lo tau mobil Ferarri baru Via siapa yang beliin?"
Gabriel menggeleng pelan.
"ALVIN JONATHAN
SINDHUNATA! Alvia berarti Alvin-Via, dan lo tahu kan kalau sejak awal Alvin
udah suka sama Via? Dan yang lo mesti tahu, 3 bulan ini Via ngehindar dari lo
karena dia selingkuh dengan Alvin. Dia berniat ngerampas semua harta Alvin. Dan
habis itu dia hempasin Alvin keras! Alvin sahabat lo kan Yel? Lihat apa yang udah
dia perbuat sama sahabat lo Yel! Alvin sekarang kritis di ICU karena Via
mutusin dia! Via mutusin dia karena udah puas nguras semua harta Alvin!"
Gabriel terlihat mengepal
tangannya keras-keras sebelum sedetik kemudian ia menampar keras pipi Via yang
sebelumnya sudah memerah karena tamparanku. Ia melepaskan cincin tunangan yang
ada di jemarinya dan ia lempar pada Via.
"Mulai sekarang kita gak
punya hubungan apa-apa lagi! Besok gue akan bilang ke kedua orang tua gue!
Thanks Vi! Thanks!!!"
"Dan gue ngewakilin
Alvin! Thanks udah buat dia sakit hati! Lo pantes dapatin ini!!!"
"Shil! Kita ketempat
Alvin sekarang!"
Iel segera masuk kursi
penumpang mobilku dan segera ku kendarai ke rumah sakit Alshera.
"Oma! Gimana Alvin? Ce
Tasya! Ce Nia! Gimanaaa?!!!"
"Al..Alvin koma,
Shill."
---
"Alvin. Udah sebulan
kamu gak bangun Vin. Bangun. Kamu mimpi apa sih sampai gak mau bangun?
Hmm?"
"Kali ini hampir habis
dayaku, membuktikan padamu, ada cinta yang nyata, setia hadir setiap hari, tak
tega biarkan kau sendiri meski sering kali, kau malah asik sendiri." Aku
bersenandung kecil ditelinganya.
"I love you,
Alvin." Bisikku lirih.
Ku raba bekas goresan di
pergelangan tangan Alvin.
"Ini adalah hal terbodoh
yang kamu lakukan Vin. Kamu gak perlu lakukan ini. Karena aku ada Vin. Aku
cinta sama kamu."
"Atau ini kebodohan aku?
Aku yang tak bernyali mengutarakan perasaan ini sama kamu. Vin! Bangun!"
"Vin.. Lihat nih. Udah
ada 31 halaman tulisan-tulisan aku. Tulisan singkat aku tentang menunggu Vin.
Menunggu kamu bangun dari tidur kamu."
"Vin. Gabriel udah gak
ada hubungan apa-apa lagi sama Via, Oma sedih Vin, dia sekarang stress, cuma
bisa diam, ce Tasya sama ce Nia? Mereka kerepotan Vin, jagain kamu dan oma.
Kamu tega sama mereka?"
"Dan aku Vin, seandainya
kamu bisa lihat aku yang sekarang Vin. Vin.. Bangun.."
Aku membelai lembut rambut
dia.
"Shil, ce Tasya mau
bicara." Ujar ce Tasya.
"Shil, tim medis nyerah
Shil. Alvin sekarang bertahan cuma karena alat-alat itu. Shil, oma udah
berusaha ikhlasin, Shil. Gabriel, ce Nia dan cece juga udah coba ikhlasin.
Relain ya Shil. Cece mohon. Biarin Alvin pergi dan tenang disana."
Aku terduduk. Sejak kapan aku
bisa merelakan orang yang ku cintai pergi? A..aku gak rela. Tapi jika itu
terbaik untuk Alvin, aku coba. Vin, aku sayang kamu.
Aku berjalan pelan menuju
Alvin.
"Vin, ini ya mau kamu?
Kalau iya, aku gak akan cegah lagi Vin. Pergi dengan tenang. Aku akan jaga oma,
ce Tasya dan ce Nia Vin. Vin, sebelum kamu pergi, aku tahu kamu dengar. Aku
cuma pengen kamu tahu, aku cinta sama kamu Vin. Bukan karena materi kamu,
karena ketulusan ini Vin. Ketulusan hati aku. Vin, aku sayang kamu. Sayang
banget. Selamat tinggal Vin. Istirahat tenang disana. I love you." Bisikku
sangat teramat lirih, aku yakin hanya kami berdua yang bisa mendengar. Ku kecup
pelan kening Alvin. Ku pandangi wajah tenang Alvin yang bertutupkan masker
oksigen. Tangan Alvin yang bergantung selang infus. Jika ini menyiksa Alvin,
jika memang ini yang terbaik. Biarkan aku yang sakit.
Aku menghadap ce Tasya dan
mengangguk. Ku berlari memeluknya.
---
Epilog. (Author)
"Chelsea siap?"
"Siap mami. Tapi papi
lama."
Shilla tertawa kecil.
"Hei Shilla. Aku
siap!"
"Papi lama ihh."
"Yee kan papi bangunnya
siang."
"Makanya jangan
keboo.." Ledek anak kecil berusia 4 tahun itu.
"Udah, udah.. Kalian ini
gak ada kerjaan apa selain ledek-ledekkan. Yuk. Oma, tante Nia sama tante Tasya
udah nungguin loh."
"Mi. Emang kita mau
kemana? Kok pakaian hitam-hitam gini?" Tanya Chelsea polos.
"Nanti kamu juga tahu
sayang. Yuk."
---
"Omaa!" Chelsea berlari
memeluk oma.
"Haloo cucu buyut oma
yang cantik.."
"Oma siap?" Tanya
Shilla.
"Siap. Kita duluan aja.
Nia sama Tasya pergi masing-masing."
"Okelah. Yuk oma. Rio
udah nunggu di mobil."
---
"Alvin. Lo masih inget
kan ya sama gue? Lo tahu? Dari delapan tahun lalu, tiap hari peringatan, gue
gak bosan-bosannya baca surat dari lo Vin. Dan ini pertama kalinya gue bawa
anak gue sama Rio kesini. Nih Vin. Udah 4 tahun. Namanya Chelsea. Cantik kan?
Pasti dong kayak gue. Hehe.. Iya kan?" Shilla menitikkan air matanya. Rio
mengusap pelan punggungnya. Chelsea menatap polos tak mengerti. Shilla mengusap
pelan papan salib bertuliskan 'Alvin Jonathan Sindhunata' itu. 8 tahun setelah
kepergian Alvin, ia tetap merasakan kehilangan. Meski pun 5 tahun yang lalu ia
telah menikah dengan laki-laki pilihannya yaitu Rio, meski pun 4 tahun yang
lalu buah hati pertamanya telah lahir.
"Vin, gue bacain lagi ya
surat dari lo."
Dear Shilla,
Jangan cengeng! Cengeng banget lo! Maaf ya gue gak
bisa jadi sahabat yang baik buat lo. Maaf gue ngecewain lo dengan hal sebodoh
ini! Maaafff banget. Tapi Shil, gue sayang sama lo. Shilla! Ashilla
Zahrantiara! Sahabat gue dari orok! Hehe! Shilla yang gue kenal itu sekuat batu
loh Shil! Jatuh dari sepeda aja gak nangis! Jadi ditinggal gue jangan nangis
ya. Gue titip oma, ce Tasya sama ce Nia ya. Jangan nangisin gue lagi cengeng!
Udah! Hehe. Love you Shil.
With Laff, :p
Sahabat lo yang paling ganteng, kece, keren tapi
takluk karena cinta,
Alvin Jonathan Sindhunata.
NB: AlShill! Together till the end! Laffyu.
"Tuh Vin. Lo udah tenang
ya? Maaf ya gue masih cengeng. Vin, gue sayang banget sama lo. Lo tetep sahabat
terbaik bagi gue. Vin, Alshill will always together till the end. Gak peduli
beda dunia Vin. I will always laffyu."
"Vin, Gabriel sekarang
sama sepupu gue loh. Hehe. Si Agni itu. Dia bilang sorry gak bisa datang
soalnya Agni lahiran. Vin, gue pamit ya. Gue pasti datang terus kalau ada
waktu. Bye Vin." Shilla mengecup papan salib itu.
"Benter Shil!"
Cegah Rio.
"Chelsea, say hai sama
om Alvin."
"Haii om Alvin."
Ujar Chelsea polos.
"Vin, dia Chelsea. Dia
anak lo juga. Chelsea punya dua papa ya sekarang. Papi Rio dan papi Alvin. Vin,
gue emang ayah kandungnya. Tapi gue tahu Shilla juga cinta sama lo. Dan bagi
gue karena maminya adalah Shilla, artinya dia anak kita berdua Vin. Thanks ya
Vin udah nitipin Shilla ke gue. Istirahat yang tenang ya Vin. Gue pamit Vin.
Bye. Chelsea, now say goodbye papi Alvin."
"Goodbye papi Alvin."
Shilla memeluk Rio erat, terharu akan sikap suaminya ini.
"Thanks Rio." Bisik
Shilla.
Shilla mengecup pelan puncak
kepala Chelsea dan menggendongnya.
"Ce Tasya, Ce Nia, Oma,
kak Irsyad, kak Kiki, Bagas, Difa kami pamit ya." Ujar Shilla dan Rio.
"Iya hati-hati ya."
"Oma, tante Tasya, tante
Nia, Om Irsyad, Om Kiki, kak Bagas, Chelsea pamit ya."
"Kok kak Bagas dipamitin
kak Difa enggak?" Goda Rio.
"Papi apaan sih! Kak
Difa Chelsea pamit ya. Bye kak Bagas." Bagas anak Tasya hanya senyum dan
melambaikan tangan pada Chelsea.
"Cieee anak mami naksir
ya sama kak Bagas. Ciee Chelsea."
"Mami apaan sih
ahhh!!!" Chelsea menggerutu malu.
Inilah akhirnya.
---
Dear Shilla,
Jangan cengeng! Cengeng banget lo! Maaf ya gue gak
bisa jadi sahabat yang baik buat lo. Maaf gue ngecewain lo dengan hal sebodoh
ini! Maaafff banget. Tapi Shil, gue sayang sama lo. Shilla! Ashilla
Zahrantiara! Sahabat gue dari orok! Hehe! Shilla yang gue kenal itu sekuat batu
loh Shil! Jatuh dari sepeda aja gak nangis! Jadi ditinggal gue jangan nangis
ya. Gue titip oma, ce Tasya sama ce Nia ya. Jangan nangisin gue lagi cengeng!
Udah! Hehe. Love you Shil.
Satu hal adalah, sekuat apapun batu, ia akan terkikis
oleh air dan ditinggal orang yang kita sayang itu lebih menyakitkan daripada
sekedar jatuh dari sepeda. Karena sakitnya bukan di kaki, tangan, kepala, atau
apapun. Tapi sakitnya dihati, didasar jiwa kita.
Dan pada ujungnya semua hanyalah sad ending. Karena
apa? Karena setiap kehidupan berujung pada sebuah hal yang disebut 'kematian'.
Yang kita bisa hanya memperbesar mental diri untuk menerima perpisahan dengan
orang-orang berharga dalam hidup kita. Filosofi orang yang berkata 'Semua pasti happy ending, if it's not, it's not the end.' itu adalah sebuah
kesalahan. Karena semua berujung pada 'kematian'.
---
Hello guizee! Thanks for
reading yah guize! Hope you like it. Sorry gak ngefeel. Alurnya terlalu terburu.
Sorry banget ya.
Note:
-kalimat yang di italic adalah quotes (yang gak banget)
dari penulis
-yang di bold adalah surat dari Alvin.
-yang di italic dan bold adalah
lirik lagu.
-lagu dalam cerita ini adalah
'Malaikat Juga Tahu' Dewi Lestari.
Thanks all.
Follow: @Sher_Sherlen
No comments:
Post a Comment