Thursday, February 6, 2014

Destiny

Hello guizeee... haha.. udah lama gue ga ngepost ya. ini cerpen gue buat udah lama tapi baru post sekarang nih. Couplenya CaFy. gak yakin sih pada mau baca. Secara banyakkan CGL, CSF, sama RFM dibandingkan CaFy lovers. Gue sih suka CaFy dong yeah. Gara-gara HiL nya kak Vina. lalala~ AlNi, CaFy, YoShill, YelDea. Gue kasihan sama CaFyLovers lain yang kekurangan cerita CaFy. Emang sih cerita gue gak bakal sebagus cerita kak Vina yang super sweet. But hope you like it lah. Awalnya sih AlviNathalie (Nathalie itu tokoh khayalan. peacelove Alvz). Tapi semoga suka aja deh. Sebelumnya gue mau curhat dulu. Waktu gue post "The One That Got Away" awalnya itu kisah nyata, endingnya gue buat-buat jadi sad end. gue masih inget waktu itu gue kirimin ke someone special (cieelah). lalu dia bilang cerpen itu gak akan jadi kenyataan. tapi sekarang ternyata menjelma jadi kenyataan. apasii.. bullshit banget yea.. haha.. okelah. life must go on, with or without him. move on sher! lalala~ Ok. Sekarang gausah pake lama. Check this out! (Ps: sorry kalau ada typo misalnya namanya belum keganti gitu kan.. soalnya aku gak check ulang okeh? ;;) )

-------

Destiny

"Hey, Fy. Bangun yuk. Udah pagi nih." Terdengar suara seorang laki-laki membangunkanku. Aku tahu. Dia pasti Cakka, kekasihku. Perkenalkan, namaku Alyssa Ifyka Nathalie, panggil saja Ify atau Fy. Aku tinggal di Jakarta bersama keluarga kekasihku. Keluarganya telah menerimaku dengan baik. Awalnya aku bertemu dengannya saat kami mendudukki bangku SMP di sebuah lomba. Dan 2 bulan kemudian ia mengaku bahwa ia menyukaiku. Akupun sebenarnya diam-diam telah menyimpan rasa padanya. Saat itu kami HTS dan LDR-an. Ya. Sebenarnya aku tinggal di Bandung.
Ketika SMA aku dan Kka tetap LDR bedanya kami telah menjalin hubungan resmi sebagai sepasang kekasih. Ia lebih muda 8 bulan dari aku, tapi tak merubah keadaan. Aku tetap mencintainya begitupun sebaliknya. Hingga saat aku kuliah aku memutuskan untuk ke Jakarta dan kedua orang tuaku yang memang sudah kenal dengan keluarganya menitipkanku pada mereka. Semuanya masih berjalan harmonis setidaknya hingga saat ini. Ini sudah tahun kelima kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Cakka memilikki 2 orang kakak perempuan yang juga sudah dekat denganku. Kak Agnia dan kak Ashilla. Mereka kini telah berkeluarga. Dirumah Cakka, hanya tinggal aku, Cakka dan kedua orang tuanya.
"Udah jam berapa, Kka?" Tanyaku dengan mata terpejam.
"Udah jam 6, mama udah siapin makanan. Yuk." Ajaknya.
Aku membuka mata seraya tersenyum kearahnya.
"Mandi dulu sana. Kami tunggu di bawah ya." Ujarnya sambil berjalan keluar kamarku. Aku segera meraih handukku dan masuk ke kamar mandi.
***
"Pagi tan, om, pagi Kka.." Sapaku saat sampai di meja makan.
"Pagi juga, Fy. Yaudah yuk makan."
Suasana dimeja makan hening hingga akhirnya mamanya Cakka buka suara.
"Gimana kuliah kamu, Fy?"
"Baik-baik aja, tan. Sorry ya jadi ngerepotin om sama tante selama kuliah disini." Jawabku.
"Santai aja, Fy. Tante juga kangen anak cewek tante. Semua udah berkeluarga. Kalian jangan cepat-cepat ya. Tante masih pengen ngehabisin waktu tante sama kalian."
"Tenang aja tan. Ini juga masih kuliah kok. Gak mungkin cepat."
"Hari ini nemenin tante, yuk." Ajaknya.
"Kemana tan?"
"Shopping aja."
"Yah mama. Jangan ambil waktu aku sama Fy kali." Protes Cakka.
"Kan nanti malam bisa, Kka. Yaudah ma, abis makan aku siap-siap sebentar ya."
"Ok deh."
***
Waktu menunjukkan pukul 16.30. Aku telah sampai dirumah setelah menghabiskan waktu dengan tante Marisa.
"Tante capek nih, Fy. Tante masuk kamar dulu ya."
"Iya tan." Setelah tante Marisa memasukki kamar akupun menaikki tangga menuju kamarku sebelum akhirnya aku menuju kamar Cakka dan mendapatinya tidur dengan posisi berantakkan. Ralat. Sangat berantakkan.
Aku memperbaikki posisi tidurnya dan menyelimutinya. Aku memperhatikan wajahnya yang sangat lucu saat tidur. Aku tak tahu tetapi aku selalu merasa ia mempunyai daya tarik tersendiri yang membuat aku sangat mencintainya. Aku bahkan tak tahu apa yang akan terjadi pada diriku jika aku kehilangannya. Aku mengusap pelan rambutnya. Dia akan memarahiku jika saja dia tidak sedang tertidur. Ia sangat tak suka jika aku memainkan rambutnya. Berbeda denganku yang sangat suka jika ia memainkan rambutku.
Ia mengejap perlahan dan menggeliat tanda ia terbangun. Dengan ciri khas rambutnya yang berantakkan, matanya yang sipit saat bangun tidur ia tersenyum padaku.
"Kamu udah pulang?"
"Kalau aku belum pulang aku gak mungkin disini Cakka sayang.." Jawabku gemas.
"Jam 6 dinner diluar yuk. Sehariiii saja." Ia tahu aku selalu menolak makan malam diluar karena aku tahu kedua orang tuanya pasti kesepian jika kami makan malam diluar.
"Hari ini aja ya?"
"Janji. Kalau dinner lagi pasti jarang-jarang kok. Suer deh."
"Yaudah. Kamu siap-siap dulu sana. Udah jam 5 sore. Aku juga mau siap-siap. Aku balik ke kamar dulu ya." Ia mengangguk.
"Fy." Aku menoleh.
"I love you." Ujarnya. Aku tersenyum.
"I love you too."
***
"Kamu Cakka ya?" Tanya seseorang wanita yang menghampiri kami ditengah kami menikmati makan malam kami.
"Iya. Maaf, tante siapa ya?" Tanya Cakka. Aku hanya diam memandangi mereka.
"Saya mamanya Sivia."
"Sivia yang..waktu itu saya tolak?" Tanya Cakka.
"Iya."
"Oh. Ada apa tan?" Nada suara Cakka mulai dingin, tak seramah sebelumnya.
"Cakka, tante mohon, beri Sivia kesempatan. Ia terkena penyakit dan kata dokter Sivia gak akan bertahan lama, Kka. Dia butuh kamu. Seseorang yang membuat semangat hidupnya balik. Tante mohon, Kka."
Sivia adalah teman kampus Cakka yang mencintainya. Ia tak tahu bahwa Cakka telah menjadi kekasihku karena aku dan Cakka memang beda jurusan dan jarang bertemu di kampus. Ia pernah nembak Cakka tetapi ditolak oleh Cakka. Dan tak kusangka ternyata ia seorang yang memilikki penyakit.
"Cakka gak akan pernah nerima dia karena Cakka gak akan pernah menyakiti hati perempuan yang Cakka cintai. Cakka udah memilikki kekasih."
"Please Cakka, tante mohon."
"Tante gak bisa maksa Cakka. Cakka gak cinta sama Sivia! Cakka cuma cinta sama Fy."
"Kka.."
"Tante ngerti gak sih? Cakka gak cinta sama Sivia! Sayang, udah makannya? Kita pulang aja." Ia berdiri meninggalkan 4 lembar Rp.100.000,- dan menarikku pergi dari sana meninggalkan mamanya Sivia.
***
Selama perjalanan pulang, Cakka tak henti-hentinya mengomel tentang mamanya Sivia. Akupun terus memikirkannya. Saat ini, Sivia sangat membutuhkan Cakka. Jauh lebih membutuhkan daripada aku. Tapi aku belum siap.
"Fy? Fy..." Lamunanku terbuyar tatkala mendengar namaku dipanggil olehnya.
"Kamu nangis?" Tanyanya menyadarkanku bahwa sedari tadi aku tak dapat membendung air mataku. Aku menghapus air mataku dan tersenyum kearahnya.
"Aku gapapa kok."
"Kita pacaran 5 tahun dan itu membuat aku lebih mengenal kamu, Fy. Kamu! Gak akan bisa bohong sama aku." Dia meraih tanganku.
"I.."
"You're afraid of losing me, right?"
Aku mengangguk kaku.
Ia memberhentikan mobilnya di dekat warung tepi jalan.
"You'll never lose me. I only love you, I only want you, not the other girl. Don't be afraid cause you are the only girl in my heart."
Aku mengangguk dan langsung memeluknya. Cepat atau lambat aku tahu aku akan kehilangannya, aku akan merelakannya untuk Sivia yang membutuhkannya.
"Kka, besok kita jenguk Sivia ya. Kasian juga dia."
Terlihat ia ingin menolak tetapi tatapan memohon dariku meluluhkan hatinya.
***
Ternyata Sivia sudah pulang kerumah, hanya saja ia belum memulai aktivitasnya karena ia masih belum boleh kecapean.
"Kamu masuk ke kamarnya. Aku tunggu dari luar aja." Pintaku.
"Fy.."
"Jangan ngebantah."
Ia akhirnya masuk ke kamar Sivia.
"Cakka?" Terdengar suara Sivia yang semangat.
"Gimana kondisi kamu?"
"Udah baikkan kok, Kka."
"Oh. Baguslah."
"Kka, aku.."
"Kamu suka sama aku kan? Vi, maaf, hati aku bukan buat kamu."
"Gapapa kok Kka, cinta datang karena terbiasa."
Benar juga, aku sama Cakka bisa saling sayang karena terbiasa. Tekadku semakin bulat untuk melepas Cakka. Awalnya memang sulit, tapi jika sudah terbiasa, aku akan baik-baik saja tanpa Cakka, dan Cakka pasti bisa mencintai Sivia.
"Tapi Vi.."
"Please Kka.. Please."
"Permisi Vi, aku pulang dulu."
"Cakka!!"
"Yuk Fy. Dia udah gapapa kok." Cakka menarikku menuju mobil.
"Kka, kita makan siang dulu ya. Aku kan gak sarapan." Cakka memandangku sekilas dan mengangguk.
Ia membawaku ke cafe dengan design romantis. Mungkin ini terakhir kalinya kita lunch gini, Kka. Aku menguatkan hatiku.
"Chicken steak blackpepper nya satu, Mexico Chicken steak satu, minumannya lemon tea dua."
"Baik mas, mba, ditunggu sebentar ya."
Saat waitress nya pergi, aku langsung saja membuka suara.
"Kka, kayaknya kita udahan sampai disini deh?" Dan langsung Cakka menatapku.
"Lebih baik kamu sama Sivia, Kka. Dia jauh membutuhkan kamu." Tatapan matanya memandangku tak percaya.
"Aku gak cinta sama Sivia, Fy, aku cinta sama kamu."
"Kka, kasihan Sivia. Dia sangat cinta sama kamu."
"Tapi kamu juga kan? Gimana sama kamu?"
"Aku gak apa kok, Kka. Gak perlu pedulikan aku. I'm fine."
"Fy, tapi..."
"Don't mind about me. I'm okay. Kka, mungkin emang kita harus berakhir disini. Kamu harus bisa bahagiain, Sivia. Buat semangat hidupnya balik. Ya? Aku izin pergi dari hati kamu, Kka. Terima kasih. Terima kasih banget udah pernah ngisi hati kosong aku, nemani hari-hari aku. Terima kasih banget udah cinta sama aku. Mungkin ini saatnya Sivia merasakan semuanya. Semua yang pernah aku rasakan. Dan saat bagi aku untuk merasakan perasaan Sivia. Jadikan ini lunch romantis terakhir kita, Kka. Dan kemudian status kita sebagai sepasang kekasih harus berubah menjadi teman. Sekedar teman." Cakka menatapku lesu.
"I'll try. I love you, Fy." Dan baru kali ini aku melihat Cakka sangat teramat hancur. Matanya kosong, senyum khas yang menghiasi wajahnya pudar, ia benar-benar tampak seperti seorang frustasi. Aku menggenggam tangannya.
"Kita bisa, Kka. Cinta datang karena terbiasa. Kita juga gitu kan? Awalnya emang berat, tapi kalau udah terbiasa aku yakin, kamu pasti bisa mencintai Sivia."
Aku memang munafik! Tidak! Aku sangat mencintai Cakka dan aku tak pernah rela untuk melepas Cakka. Tapi bagaimana dengan Sivia? Ia juga memerlukan Cakka. Ia jauh lebih membutuhkan Cakka daripada aku.
***
Cakka PoV
Malam ini aku tak bisa terlelap. Waktu menunjukkan pukul 23.45 dan aku masih belum tidur. Aku-Sivia? Apakah aku bisa mencintai Sivia secinta aku dengan Fy. Kenapa Fy harus merelakanku untuk Sivia. Kebanyakkan cowok menjadikan pacar pertamanya kelinci percobaan tetapi tidak bagiku. Aku sangat mencintai Fy dan tak ingin kehilangannya. Aku sangat mencintainya. Tetapi semua kisah kami telah berakhir. Ia telah izin pergi dari hatiku. Dan ini mungkin saat bagiku untuk menutup pintu masa laluku dan membuka pintu masa depanku. Mungkin.
***
Nathalie PoV
Aku mengerjapkan mataku. Sudah pukul 6.45. Pagi ini tak ada ucapan selamat pagi spesial. Ini memang salahku yang melepasnya.
"Pagi tan, om, Kka."
"Pagi Fy." Sapa tante Marisa ramah, beda dengan Cakka yang hanya melirikku tanpa menyapa bahkan tersenyum. Aku hanya menahan perih yang kian mengoyak lapisan hatiku.
"Ma, pa, Cakka hari ini ada tugas yang belum selesai jadi mau ke kampus cepat nih. Cakka pamit ya." Ia segera meminum air putih dan bangkit berdiri.
"Tapi Fy kan belum makan."
"Gak apa om, Fy juga lagi gak mau makan kok. Fy pamit ya, om, tante."
"Yakin, Fy gapapa?"
"Iya tante. Tenang aja. Duluan ya."
"Hati-hati ya, Kka, Fy."
***
Seperti yang ku duga sebelumnya, aku akan sangat hancur jika kehilangannya. Aku sangat teramat mencintainya. Sangat.
"Pagi Cakka sayang." Aku tercengang mendengar panggilan itu. Panggilan lamaku pada Cakka. Kini aku tak berhak lagi memanggilnya seperti itu. Kini ia menjadi milik Sivia. Bukan lagi milikku.
"Dia siapa, Kka?" Tanya Sivia menunjuk kearahku.
Cakka terdiam.
"Aku Ify. Sepupu Cakka. Panggil aja Ify."
"Oh. Nice to meet you, Ify." Ya seandainya aja kamu tahu aku bukan sepupunya. Aku mantannya. Mantan yang merelakannya untuk kamu, Vi.
"Jurusan apa Fy?"
"Psikolog, Vi. Kamu?"
"Sama kayak Cakka." Jawabnya seraya tersenyum lebar.
Aku hanya mengangguk -memaksakan- tersenyum.
Dan kami sampai di kampus. Kami bertiga (tak lagi berdua) menuruni mobil.
"Vi, aku ada urusan sama Fy sebentar. Kamu duluan ya." And he kisses her forehead. Aku hanya dapat terdiam menahan kedua air mataku yang siap mengalir.
"Ok. Duluan ya. Bye Fy, Kka."
"Vi.." Sivia menoleh.
"Jaga kondisi ya, jangan kecapean, nanti penyakitmu kambuh."
"Iya Cakka sayang. Thanks for caring. I love you."
"I love you too.." Ternyata sekarang Cakka sudah mulai mencintai Sivia. Aku menggigit bibir bawahku dengan kuat. Bahkan sakitnya hati ini lebih menyiksa daripada sakitnya bibirku yang nyaris berdarah.
Sepeninggalan Sivia, Cakka langsung membuka suara.
"Kamu yang minta Fy. Tapi maaf, aku tetap sayang sama kamu. Aku hanya mencoba menghapus nama kamu dari hatiku atas permintaan kamu."
"Kka.." Ia meninggalkanku sendiri.
Aku berjalan lemah ke kelasku.
Benar kata Cakka, aku yang meminta semua ini. Aku yang menyebabkan aku sakit hati. Aku tak bisa menyalahkan Cakka. Itu bukan yang seharusnya dilakukan Cakka? Perhatian kepada kekasihnya. Dan kini kekasihnya adalah Sivia, bukan lagi aku.
***
Cakka PoV
Maafkan aku Fy, bukan maksudku melukai hatimu. Aku melihatnya. Berjalan lemah menuju kelasnya. Kecupanku pada kening Sivia membuatku semakin membenci diriku, mengatakan bahwa aku juga mencintai Sivia sama saja dengan melukai hatiku sendiri. Aku tak bisa tanpa Ify. Dia. Hanya dia. Satu-satunya perempuan yang menghiasi hatiku. Aku belum bisa melupakannya. Sivia bukanlah pengganti dirinya dan tak akan pernah menjadi pengganti dirinya. Saat ia mengatakan bahwa aku hanyalah sepupunya ia melukai hatiku tanpa ia sadari. Melihatnya menahan air matanya, melihat ia menahan perih hatinya, melihat ia menggigit bibir bawahnya sama saja dengan menyayat hatiku perlahan. Aku.. Ah! Entahlah! Aku sangat membenci diriku untuk membuat hatinya semakin terluka. Fy! Aku bisa gila tanpa kamu!
***
Hari Minggu
Hari ini Ify mengurung diri dikamar. Aku tak tahu apa yang ia lakukan. Aku mencoba tidak peduli terhadapnya. Aku berusaha mencari kesibukkan seperti merapikan kamarku. Kini, Fy tak pernah lagi merapikan kamarku seperti biasanya. Tetapi itu lebih baik dibandingkan dia masuk ke kamarku dan melihat foto kami berdua masih terpajang rapi dimeja kamarku. Hingga tiba-tiba aku mendapat pesan dari Sivia yang mengajakku makan siang. Mungkin ini cukup baik bagiku untuk melupakan Ify, dan aku sanggupi ajakkan Sivia.
***
Ify PoV
Semakin hari hubunganku dengan Cakka tak kian membaik. Aku memutuskan kembali pulang ke Bandung tanpa sepengetahuan Cakka. Kedua orang tuanya sudah mengetahui tentang aku-Cakka-Sivia. Mereka memang tak menyetujui hubungan Cakka dengan Sivia, tetapi aku mencoba membujuk mereka. Sebelum aku pulang aku menuliskan surat untuk Cakka.
---
Hai Kka, sorry ya aku pulang gak kasi tahu kamu, aku cuma pengen mengubur masa kelam kita. Aku juga gak mau ganggu hubungan kamu sama Sivia. Maaf aku udah nyakitin kamu. Maaf buat semuanya. Thanks juga buat udah nemeni hari-hari aku, mengisi hati kosong aku 5 tahun ini. Aku gak bisa munafik, Kka. Aku masih cinta kamu. Aku gak bisa lupain kamu. Thanks buat segalanya, Kka. I love you, goodbye.
                                                                                 Ify
---
Dan disaat Cakka sedang keluar bersama Sivia, aku masuk ke kamar Cakka dan menyimpan surat itu diatas tempat tidur Cakka. Kamarnya masih sangat berantakkan. Aku memang tak pernah lagi merapikkan kamarnya seperti dulu. Sebelum aku pulang, aku putuskan untuk merapikan kamarnya. Aku berjalan kearah mejanya dan disana terdapat lukisan wajahku yang aku yakini itu adalah lukisannya. Dan ternyata disana masih terpajang foto kami berdua. Aku berusaha menahan air mataku yang siap mengalir. Hingga akhirnya aku putuskan untuk keluar dari kamarnya saat melihat kamarnya telah rapi. Tante Marisa mengantarkanku ke bandara.
"Terima kasih ya tante buat setahun lebih ini. Maaf Fy repotin tante. Maaf juga Fy gak bisa nemenin tante lagi. Maaf juga untuk semuanya tan. Terima kasih banget ya, Tan. Terima Sivia ya Tan. Titip salam untuk om sama Cakka. Sama kak Agni dan kak Shilla." Tante Marisa memelukku.
"Hati-hati ya, Fy. Pintu rumah kami selalu kebuka buat kamu Fy kapanpun kamu mau kesini."
"Iya tan, thanks ya. Fy duluan."
"Hati-hati ya, Fy."
"Tante juga jaga diri ya, tan. Fy pamit."
Berat. Sangat berat meninggalkan keluarga Cakka, terutama Cakka.
***
Cakka PoV
Sepulangnya mama dan papa langsung mengajakku makan malam. Tapi tak sedikitpun aku melihat Ify.
"Fy mana ma?" Tanyaku.
Mama hanya mengangkat bahu. Apa segitunya ia hingga tak mau makan malam bersamaku. Fy, aku takut kamu sakit. Jangan kayak gini.
Seusai makan aku langsung beranjak naik ke kamar. Dan aku mendapati kamarku sangat rapi. Mungkin mama yang merapikan. Tetapi kemudian pandanganku menangkap secarik kertas diatas tempat tidurku. Aku meraih dan membacanya. Dan mengejutkan kini Ify telah pulang. Aku tak dapat lagi melihat wajahnya dengan hiasan mata bening dan senyum manis, aku tak dapat lagi mendengar tawanya yang khas. Dia boleh memutuskanku, tetapi aku tak kuat jika aku tak dapat lagi melihat wajahnya. Fy, aku merindukanmu.
***
Aku dan Sivia (aku tak akan pernah sanggup menyebut 'aku' dan 'dia' sebagai 'kita' ataupun 'kami') telah menjalin hubungan selama 9 bulan hingga akhirnya mamanya meminta aku dan dia untuk segera bertunangan. Mama dengan berat hati menyanggupinya. Aku tahu mama sangat menyayangi Ify, bukan Sivia. Begitupun aku. Ify tak pernah pergi dari hatiku. Ia selalu menetap disana. 9 bulan tak membuat Sivia menggantikan posisi Ify dihatiku. Kak Agni dan kak Shilla pun tak pernah dekat dengan Sivia sedekat mereka dulu dengan Ify.
Hari H pertunanganku dengan Sivia pun tiba. Dan aku terkejut mendapati perempuan yang berdiri diantara kak Shilla dan mama. Perempuan yang telah lama ku rindukan dan ku nantikan, perempuan yang selalu kucintai hingga saat ini. Perempuan yang menempati ruang hatiku tanpa bisa digantikan oleh siapapun.
***
Ify PoV
Berbulan-bulan berlalu. Nama Cakka masih tercetak indah dihatiku. Belum tergantikan oleh siapapun. Hingga akhirnya aku mendapatkan kabar dari kak Agni bahwa Cakka akan bertunangan dengan Sivia dan aku diundang. Untuk menghargai keluarga Cakka aku pun menyanggupi permintaan kak Lyssa untuk hadir diacara pertunangan Cakka. Meskipun aku belum siap mental untuk menyaksikan Cakka dan Sivia.
Dan sekarang disini aku berdiri, di acara pertunangan Cakka dan Sivia. Tante Marisa nyaris menangis melihatku. Ia mengatakan bahwa ia masih berharap bahwa yang bertunangan dengan Cakka adalah aku, bukan Sivia. Tapi aku sudah tak dapat mengubah. Dan sekarang acara pertukaran cincin. Cakka melirik sekilas kearahku. Ia telah siap memasangkan cincin ke jemari Sivia. Air mataku tak dapat ku tahan lagi. Hatiku tak siap melihat kejadian ini. Kak Shilla yang berdiri disampingku merangkul ku dengan erat. Hingga akhirnya Cakka menarik lagi tangannya dan menggeleng. Dan pertama kali yang pernah ku lihat ia menangis didepan umum. Semua tamu menatap bingung.
"Sorry, Vi. Aku gak bisa."
"Udah aku duga, Kka. Aku yang minta kak Agni untuk mengundang Fy." Aku terpaku saat Sivia menyebut namaku.
"Fy, aku udah tahu semuanya. Dan sekarang, aku mohon gantiin posisiku. Cakka hanya mencintai kamu dan bukan aku. Dia hanya menginginkan kamu."
"Ta.. Tapi kamu, Vi?"
"Kamu udah pernah berkorban untuk aku, sekarang giliran aku. Lagipula percuma aku memilikki raganya tapi bukan hatinya. Maafin aku yang pernah ngerusak hubungan kalian. Maafin aku udah ngelukai hati kamu, Fy."
Aku menatap kak Agni, kak Shilla, Om, Tante, Cakka dan Sivia dan akhirnya aku berjalan pelan kearah Cakka dan Sivia. Sesampainya aku langsung ditarik dalam dekapan Cakka dan tak dapat ku tahan lagi aku menumpahkan tangisanku dalam pelukkannya.
"I love you, Fy. I'm sorry."
"Harusnya aku yang minta maaf, Kka. Sorry. I love you too, Kka."
"Sorry dan thanks, Via." Aku beralih memeluk Sivia.
"Thanks ya, Vi." Terdengar suara Cakka dari belakangku.
"Harusnya aku yang sorry sama kamu, Fy. Maaf udah ngelukai hati kamu yang baik kayak gini. Semoga bahagia ya sama Cakka."
"Kamu juga pasti bisa dapat yang lebih baik dari Cakka, Vi. Yang cinta sama kamu apa adanya."
"Thanks, Fy."
"Dan hari ini aku mengganti pertunanganku dengan Cakka menjadi pertunangan Ify dengan Cakka."
Cakka pun memakaikan cincin ke jemariku dan setelahnya giliranku yang memakaikan cincin ke jemarinya.
Dan lagi, ia menarikku ke dekapannya.
"Don't ever leave me again. Never." Bisiknya.
"I promise."
Dan aku percaya, Tuhan telah menyiapkan sebuah kebahagiaan di akhir cerita kami. Aku telah berjanji dalam hatiku tak akan pernah lagi menyakiti hatinya dan tak akan pernah lagi meninggalkannya. Aku sangat mencintainya dan aku tahu aku akan sangat hancur jika aku kehilangannya lagi. I love you, Cakka.

2 comments:

  1. Sherrr, quote-quote di cerita kamu bagus-bagus yaaaah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!

    ReplyDelete