-------
Destiny
"Hey, Fy. Bangun yuk.
Udah pagi nih." Terdengar suara seorang laki-laki membangunkanku. Aku
tahu. Dia pasti Cakka, kekasihku. Perkenalkan, namaku Alyssa Ifyka Nathalie,
panggil saja Ify atau Fy. Aku tinggal di Jakarta bersama keluarga kekasihku. Keluarganya
telah menerimaku dengan baik. Awalnya aku bertemu dengannya saat kami
mendudukki bangku SMP di sebuah lomba. Dan 2 bulan kemudian ia mengaku bahwa ia
menyukaiku. Akupun sebenarnya diam-diam telah menyimpan rasa padanya. Saat itu
kami HTS dan LDR-an. Ya. Sebenarnya aku tinggal di Bandung.
Ketika SMA aku dan Kka tetap
LDR bedanya kami telah menjalin hubungan resmi sebagai sepasang kekasih. Ia
lebih muda 8 bulan dari aku, tapi tak merubah keadaan. Aku tetap mencintainya
begitupun sebaliknya. Hingga saat aku kuliah aku memutuskan untuk ke Jakarta
dan kedua orang tuaku yang memang sudah kenal dengan keluarganya menitipkanku
pada mereka. Semuanya masih berjalan harmonis setidaknya hingga saat ini. Ini
sudah tahun kelima kami menjalin hubungan sebagai sepasang kekasih. Cakka
memilikki 2 orang kakak perempuan yang juga sudah dekat denganku. Kak Agnia dan
kak Ashilla. Mereka kini telah berkeluarga. Dirumah Cakka, hanya tinggal aku,
Cakka dan kedua orang tuanya.
"Udah jam berapa,
Kka?" Tanyaku dengan mata terpejam.
"Udah jam 6, mama udah
siapin makanan. Yuk." Ajaknya.
Aku membuka mata seraya
tersenyum kearahnya.
"Mandi dulu sana. Kami
tunggu di bawah ya." Ujarnya sambil berjalan keluar kamarku. Aku segera
meraih handukku dan masuk ke kamar mandi.
***
"Pagi tan, om, pagi
Kka.." Sapaku saat sampai di meja makan.
"Pagi juga, Fy. Yaudah
yuk makan."
Suasana dimeja makan hening
hingga akhirnya mamanya Cakka buka suara.
"Gimana kuliah kamu,
Fy?"
"Baik-baik aja, tan.
Sorry ya jadi ngerepotin om sama tante selama kuliah disini." Jawabku.
"Santai aja, Fy. Tante
juga kangen anak cewek tante. Semua udah berkeluarga. Kalian jangan cepat-cepat
ya. Tante masih pengen ngehabisin waktu tante sama kalian."
"Tenang aja tan. Ini
juga masih kuliah kok. Gak mungkin cepat."
"Hari ini nemenin tante,
yuk." Ajaknya.
"Kemana tan?"
"Shopping aja."
"Yah mama. Jangan ambil
waktu aku sama Fy kali." Protes Cakka.
"Kan nanti malam bisa,
Kka. Yaudah ma, abis makan aku siap-siap sebentar ya."
"Ok deh."
***
Waktu menunjukkan pukul
16.30. Aku telah sampai dirumah setelah menghabiskan waktu dengan tante Marisa.
"Tante capek nih, Fy.
Tante masuk kamar dulu ya."
"Iya tan." Setelah
tante Marisa memasukki kamar akupun menaikki tangga menuju kamarku sebelum
akhirnya aku menuju kamar Cakka dan mendapatinya tidur dengan posisi
berantakkan. Ralat. Sangat berantakkan.
Aku memperbaikki posisi
tidurnya dan menyelimutinya. Aku memperhatikan wajahnya yang sangat lucu saat
tidur. Aku tak tahu tetapi aku selalu merasa ia mempunyai daya tarik tersendiri
yang membuat aku sangat mencintainya. Aku bahkan tak tahu apa yang akan terjadi
pada diriku jika aku kehilangannya. Aku mengusap pelan rambutnya. Dia akan
memarahiku jika saja dia tidak sedang tertidur. Ia sangat tak suka jika aku
memainkan rambutnya. Berbeda denganku yang sangat suka jika ia memainkan
rambutku.
Ia mengejap perlahan dan
menggeliat tanda ia terbangun. Dengan ciri khas rambutnya yang berantakkan,
matanya yang sipit saat bangun tidur ia tersenyum padaku.
"Kamu udah pulang?"
"Kalau aku belum pulang
aku gak mungkin disini Cakka sayang.." Jawabku gemas.
"Jam 6 dinner diluar
yuk. Sehariiii saja." Ia tahu aku selalu menolak makan malam diluar karena
aku tahu kedua orang tuanya pasti kesepian jika kami makan malam diluar.
"Hari ini aja ya?"
"Janji. Kalau dinner lagi
pasti jarang-jarang kok. Suer deh."
"Yaudah. Kamu siap-siap
dulu sana. Udah jam 5 sore. Aku juga mau siap-siap. Aku balik ke kamar dulu
ya." Ia mengangguk.
"Fy." Aku menoleh.
"I love you."
Ujarnya. Aku tersenyum.
"I love you too."
***
"Kamu Cakka ya?" Tanya
seseorang wanita yang menghampiri kami ditengah kami menikmati makan malam
kami.
"Iya. Maaf, tante siapa
ya?" Tanya Cakka. Aku hanya diam memandangi mereka.
"Saya mamanya
Sivia."
"Sivia yang..waktu itu
saya tolak?" Tanya Cakka.
"Iya."
"Oh. Ada apa tan?"
Nada suara Cakka mulai dingin, tak seramah sebelumnya.
"Cakka, tante mohon,
beri Sivia kesempatan. Ia terkena penyakit dan kata dokter Sivia gak akan
bertahan lama, Kka. Dia butuh kamu. Seseorang yang membuat semangat hidupnya
balik. Tante mohon, Kka."
Sivia adalah teman kampus
Cakka yang mencintainya. Ia tak tahu bahwa Cakka telah menjadi kekasihku karena
aku dan Cakka memang beda jurusan dan jarang bertemu di kampus. Ia pernah
nembak Cakka tetapi ditolak oleh Cakka. Dan tak kusangka ternyata ia seorang
yang memilikki penyakit.
"Cakka gak akan pernah
nerima dia karena Cakka gak akan pernah menyakiti hati perempuan yang Cakka
cintai. Cakka udah memilikki kekasih."
"Please Cakka, tante
mohon."
"Tante gak bisa maksa
Cakka. Cakka gak cinta sama Sivia! Cakka cuma cinta sama Fy."
"Kka.."
"Tante ngerti gak sih?
Cakka gak cinta sama Sivia! Sayang, udah makannya? Kita pulang aja." Ia
berdiri meninggalkan 4 lembar Rp.100.000,- dan menarikku pergi dari sana
meninggalkan mamanya Sivia.
***
Selama perjalanan pulang, Cakka
tak henti-hentinya mengomel tentang mamanya Sivia. Akupun terus memikirkannya.
Saat ini, Sivia sangat membutuhkan Cakka. Jauh lebih membutuhkan daripada aku.
Tapi aku belum siap.
"Fy? Fy..."
Lamunanku terbuyar tatkala mendengar namaku dipanggil olehnya.
"Kamu nangis?"
Tanyanya menyadarkanku bahwa sedari tadi aku tak dapat membendung air mataku.
Aku menghapus air mataku dan tersenyum kearahnya.
"Aku gapapa kok."
"Kita pacaran 5 tahun
dan itu membuat aku lebih mengenal kamu, Fy. Kamu! Gak akan bisa bohong sama
aku." Dia meraih tanganku.
"I.."
"You're afraid of losing
me, right?"
Aku mengangguk kaku.
Ia memberhentikan mobilnya di
dekat warung tepi jalan.
"You'll never lose me. I
only love you, I only want you, not the other girl. Don't be afraid cause you
are the only girl in my heart."
Aku mengangguk dan langsung
memeluknya. Cepat atau lambat aku tahu aku akan kehilangannya, aku akan
merelakannya untuk Sivia yang membutuhkannya.
"Kka, besok kita jenguk
Sivia ya. Kasian juga dia."
Terlihat ia ingin menolak
tetapi tatapan memohon dariku meluluhkan hatinya.
***
Ternyata Sivia sudah pulang
kerumah, hanya saja ia belum memulai aktivitasnya karena ia masih belum boleh
kecapean.
"Kamu masuk ke kamarnya.
Aku tunggu dari luar aja." Pintaku.
"Fy.."
"Jangan ngebantah."
Ia akhirnya masuk ke kamar
Sivia.
"Cakka?" Terdengar
suara Sivia yang semangat.
"Gimana kondisi
kamu?"
"Udah baikkan kok,
Kka."
"Oh. Baguslah."
"Kka, aku.."
"Kamu suka sama aku kan?
Vi, maaf, hati aku bukan buat kamu."
"Gapapa kok Kka, cinta
datang karena terbiasa."
Benar juga, aku sama Cakka
bisa saling sayang karena terbiasa. Tekadku semakin bulat untuk melepas Cakka.
Awalnya memang sulit, tapi jika sudah terbiasa, aku akan baik-baik saja tanpa
Cakka, dan Cakka pasti bisa mencintai Sivia.
"Tapi Vi.."
"Please Kka..
Please."
"Permisi Vi, aku pulang
dulu."
"Cakka!!"
"Yuk Fy. Dia udah gapapa
kok." Cakka menarikku menuju mobil.
"Kka, kita makan siang
dulu ya. Aku kan gak sarapan." Cakka memandangku sekilas dan mengangguk.
Ia membawaku ke cafe dengan
design romantis. Mungkin ini terakhir kalinya kita lunch gini, Kka. Aku
menguatkan hatiku.
"Chicken steak
blackpepper nya satu, Mexico Chicken steak satu, minumannya lemon tea
dua."
"Baik mas, mba, ditunggu
sebentar ya."
Saat waitress nya pergi, aku
langsung saja membuka suara.
"Kka, kayaknya kita
udahan sampai disini deh?" Dan langsung Cakka menatapku.
"Lebih baik kamu sama
Sivia, Kka. Dia jauh membutuhkan kamu." Tatapan matanya memandangku tak
percaya.
"Aku gak cinta sama
Sivia, Fy, aku cinta sama kamu."
"Kka, kasihan Sivia. Dia
sangat cinta sama kamu."
"Tapi kamu juga kan?
Gimana sama kamu?"
"Aku gak apa kok, Kka.
Gak perlu pedulikan aku. I'm fine."
"Fy, tapi..."
"Don't mind about me.
I'm okay. Kka, mungkin emang kita harus berakhir disini. Kamu harus bisa bahagiain,
Sivia. Buat semangat hidupnya balik. Ya? Aku izin pergi dari hati kamu, Kka.
Terima kasih. Terima kasih banget udah pernah ngisi hati kosong aku, nemani
hari-hari aku. Terima kasih banget udah cinta sama aku. Mungkin ini saatnya
Sivia merasakan semuanya. Semua yang pernah aku rasakan. Dan saat bagi aku
untuk merasakan perasaan Sivia. Jadikan ini lunch romantis terakhir kita, Kka.
Dan kemudian status kita sebagai sepasang kekasih harus berubah menjadi teman.
Sekedar teman." Cakka menatapku lesu.
"I'll try. I love you,
Fy." Dan baru kali ini aku melihat Cakka sangat teramat hancur. Matanya
kosong, senyum khas yang menghiasi wajahnya pudar, ia benar-benar tampak
seperti seorang frustasi. Aku menggenggam tangannya.
"Kita bisa, Kka. Cinta
datang karena terbiasa. Kita juga gitu kan? Awalnya emang berat, tapi kalau
udah terbiasa aku yakin, kamu pasti bisa mencintai Sivia."
Aku memang munafik! Tidak!
Aku sangat mencintai Cakka dan aku tak pernah rela untuk melepas Cakka. Tapi
bagaimana dengan Sivia? Ia juga memerlukan Cakka. Ia jauh lebih membutuhkan
Cakka daripada aku.
***
Cakka PoV
Malam ini aku tak bisa
terlelap. Waktu menunjukkan pukul 23.45 dan aku masih belum tidur. Aku-Sivia?
Apakah aku bisa mencintai Sivia secinta aku dengan Fy. Kenapa Fy harus
merelakanku untuk Sivia. Kebanyakkan cowok menjadikan pacar pertamanya kelinci
percobaan tetapi tidak bagiku. Aku sangat mencintai Fy dan tak ingin
kehilangannya. Aku sangat mencintainya. Tetapi semua kisah kami telah berakhir.
Ia telah izin pergi dari hatiku. Dan ini mungkin saat bagiku untuk menutup
pintu masa laluku dan membuka pintu masa depanku. Mungkin.
***
Nathalie PoV
Aku mengerjapkan mataku.
Sudah pukul 6.45. Pagi ini tak ada ucapan selamat pagi spesial. Ini memang
salahku yang melepasnya.
"Pagi tan, om, Kka."
"Pagi Fy." Sapa
tante Marisa ramah, beda dengan Cakka yang hanya melirikku tanpa menyapa bahkan
tersenyum. Aku hanya menahan perih yang kian mengoyak lapisan hatiku.
"Ma, pa, Cakka hari ini
ada tugas yang belum selesai jadi mau ke kampus cepat nih. Cakka pamit
ya." Ia segera meminum air putih dan bangkit berdiri.
"Tapi Fy kan belum
makan."
"Gak apa om, Fy juga
lagi gak mau makan kok. Fy pamit ya, om, tante."
"Yakin, Fy gapapa?"
"Iya tante. Tenang aja.
Duluan ya."
"Hati-hati ya, Kka,
Fy."
***
Seperti yang ku duga
sebelumnya, aku akan sangat hancur jika kehilangannya. Aku sangat teramat
mencintainya. Sangat.
"Pagi Cakka
sayang." Aku tercengang mendengar panggilan itu. Panggilan lamaku pada
Cakka. Kini aku tak berhak lagi memanggilnya seperti itu. Kini ia menjadi milik
Sivia. Bukan lagi milikku.
"Dia siapa, Kka?"
Tanya Sivia menunjuk kearahku.
Cakka terdiam.
"Aku Ify. Sepupu Cakka.
Panggil aja Ify."
"Oh. Nice to meet you,
Ify." Ya seandainya aja kamu tahu aku bukan sepupunya. Aku mantannya.
Mantan yang merelakannya untuk kamu, Vi.
"Jurusan apa Fy?"
"Psikolog, Vi.
Kamu?"
"Sama kayak Cakka."
Jawabnya seraya tersenyum lebar.
Aku hanya mengangguk
-memaksakan- tersenyum.
Dan kami sampai di kampus.
Kami bertiga (tak lagi berdua) menuruni mobil.
"Vi, aku ada urusan sama
Fy sebentar. Kamu duluan ya." And he kisses her forehead. Aku hanya dapat
terdiam menahan kedua air mataku yang siap mengalir.
"Ok. Duluan ya. Bye Fy,
Kka."
"Vi.." Sivia
menoleh.
"Jaga kondisi ya, jangan
kecapean, nanti penyakitmu kambuh."
"Iya Cakka sayang.
Thanks for caring. I love you."
"I love you too.."
Ternyata sekarang Cakka sudah mulai mencintai Sivia. Aku menggigit bibir
bawahku dengan kuat. Bahkan sakitnya hati ini lebih menyiksa daripada sakitnya
bibirku yang nyaris berdarah.
Sepeninggalan Sivia, Cakka
langsung membuka suara.
"Kamu yang minta Fy.
Tapi maaf, aku tetap sayang sama kamu. Aku hanya mencoba menghapus nama kamu
dari hatiku atas permintaan kamu."
"Kka.." Ia
meninggalkanku sendiri.
Aku berjalan lemah ke
kelasku.
Benar kata Cakka, aku yang
meminta semua ini. Aku yang menyebabkan aku sakit hati. Aku tak bisa
menyalahkan Cakka. Itu bukan yang seharusnya dilakukan Cakka? Perhatian kepada
kekasihnya. Dan kini kekasihnya adalah Sivia, bukan lagi aku.
***
Cakka PoV
Maafkan aku Fy, bukan maksudku
melukai hatimu. Aku melihatnya. Berjalan lemah menuju kelasnya. Kecupanku pada
kening Sivia membuatku semakin membenci diriku, mengatakan bahwa aku juga
mencintai Sivia sama saja dengan melukai hatiku sendiri. Aku tak bisa tanpa
Ify. Dia. Hanya dia. Satu-satunya perempuan yang menghiasi hatiku. Aku belum
bisa melupakannya. Sivia bukanlah pengganti dirinya dan tak akan pernah menjadi
pengganti dirinya. Saat ia mengatakan bahwa aku hanyalah sepupunya ia melukai
hatiku tanpa ia sadari. Melihatnya menahan air matanya, melihat ia menahan
perih hatinya, melihat ia menggigit bibir bawahnya sama saja dengan menyayat
hatiku perlahan. Aku.. Ah! Entahlah! Aku sangat membenci diriku untuk membuat
hatinya semakin terluka. Fy! Aku bisa gila tanpa kamu!
***
Hari Minggu
Hari ini Ify mengurung diri
dikamar. Aku tak tahu apa yang ia lakukan. Aku mencoba tidak peduli
terhadapnya. Aku berusaha mencari kesibukkan seperti merapikan kamarku. Kini,
Fy tak pernah lagi merapikan kamarku seperti biasanya. Tetapi itu lebih baik
dibandingkan dia masuk ke kamarku dan melihat foto kami berdua masih terpajang
rapi dimeja kamarku. Hingga tiba-tiba aku mendapat pesan dari Sivia yang
mengajakku makan siang. Mungkin ini cukup baik bagiku untuk melupakan Ify, dan
aku sanggupi ajakkan Sivia.
***
Ify PoV
Semakin hari hubunganku
dengan Cakka tak kian membaik. Aku memutuskan kembali pulang ke Bandung tanpa
sepengetahuan Cakka. Kedua orang tuanya sudah mengetahui tentang
aku-Cakka-Sivia. Mereka memang tak menyetujui hubungan Cakka dengan Sivia, tetapi
aku mencoba membujuk mereka. Sebelum aku pulang aku menuliskan surat untuk
Cakka.
---
Hai Kka, sorry ya aku pulang
gak kasi tahu kamu, aku cuma pengen mengubur masa kelam kita. Aku juga gak mau
ganggu hubungan kamu sama Sivia. Maaf aku udah nyakitin kamu. Maaf buat
semuanya. Thanks juga buat udah nemeni hari-hari aku, mengisi hati kosong aku 5
tahun ini. Aku gak bisa munafik, Kka. Aku masih cinta kamu. Aku gak bisa lupain
kamu. Thanks buat segalanya, Kka. I love you, goodbye.
Ify
---
Dan disaat Cakka sedang
keluar bersama Sivia, aku masuk ke kamar Cakka dan menyimpan surat itu diatas
tempat tidur Cakka. Kamarnya masih sangat berantakkan. Aku memang tak pernah
lagi merapikkan kamarnya seperti dulu. Sebelum aku pulang, aku putuskan untuk
merapikan kamarnya. Aku berjalan kearah mejanya dan disana terdapat lukisan
wajahku yang aku yakini itu adalah lukisannya. Dan ternyata disana masih
terpajang foto kami berdua. Aku berusaha menahan air mataku yang siap mengalir.
Hingga akhirnya aku putuskan untuk keluar dari kamarnya saat melihat kamarnya
telah rapi. Tante Marisa mengantarkanku ke bandara.
"Terima kasih ya tante
buat setahun lebih ini. Maaf Fy repotin tante. Maaf juga Fy gak bisa nemenin
tante lagi. Maaf juga untuk semuanya tan. Terima kasih banget ya, Tan. Terima
Sivia ya Tan. Titip salam untuk om sama Cakka. Sama kak Agni dan kak
Shilla." Tante Marisa memelukku.
"Hati-hati ya, Fy. Pintu
rumah kami selalu kebuka buat kamu Fy kapanpun kamu mau kesini."
"Iya tan, thanks ya. Fy
duluan."
"Hati-hati ya, Fy."
"Tante juga jaga diri
ya, tan. Fy pamit."
Berat. Sangat berat
meninggalkan keluarga Cakka, terutama Cakka.
***
Cakka PoV
Sepulangnya mama dan papa
langsung mengajakku makan malam. Tapi tak sedikitpun aku melihat Ify.
"Fy mana ma?"
Tanyaku.
Mama hanya mengangkat bahu.
Apa segitunya ia hingga tak mau makan malam bersamaku. Fy, aku takut kamu
sakit. Jangan kayak gini.
Seusai makan aku langsung
beranjak naik ke kamar. Dan aku mendapati kamarku sangat rapi. Mungkin mama
yang merapikan. Tetapi kemudian pandanganku menangkap secarik kertas diatas
tempat tidurku. Aku meraih dan membacanya. Dan mengejutkan kini Ify telah
pulang. Aku tak dapat lagi melihat wajahnya dengan hiasan mata bening dan
senyum manis, aku tak dapat lagi mendengar tawanya yang khas. Dia boleh
memutuskanku, tetapi aku tak kuat jika aku tak dapat lagi melihat wajahnya. Fy,
aku merindukanmu.
***
Aku dan Sivia (aku tak akan
pernah sanggup menyebut 'aku' dan 'dia' sebagai 'kita' ataupun 'kami') telah
menjalin hubungan selama 9 bulan hingga akhirnya mamanya meminta aku dan dia
untuk segera bertunangan. Mama dengan berat hati menyanggupinya. Aku tahu mama
sangat menyayangi Ify, bukan Sivia. Begitupun aku. Ify tak pernah pergi dari
hatiku. Ia selalu menetap disana. 9 bulan tak membuat Sivia menggantikan posisi
Ify dihatiku. Kak Agni dan kak Shilla pun tak pernah dekat dengan Sivia sedekat
mereka dulu dengan Ify.
Hari H pertunanganku dengan
Sivia pun tiba. Dan aku terkejut mendapati perempuan yang berdiri diantara kak
Shilla dan mama. Perempuan yang telah lama ku rindukan dan ku nantikan,
perempuan yang selalu kucintai hingga saat ini. Perempuan yang menempati ruang
hatiku tanpa bisa digantikan oleh siapapun.
***
Ify PoV
Berbulan-bulan berlalu. Nama
Cakka masih tercetak indah dihatiku. Belum tergantikan oleh siapapun. Hingga
akhirnya aku mendapatkan kabar dari kak Agni bahwa Cakka akan bertunangan
dengan Sivia dan aku diundang. Untuk menghargai keluarga Cakka aku pun
menyanggupi permintaan kak Lyssa untuk hadir diacara pertunangan Cakka.
Meskipun aku belum siap mental untuk menyaksikan Cakka dan Sivia.
Dan sekarang disini aku
berdiri, di acara pertunangan Cakka dan Sivia. Tante Marisa nyaris menangis
melihatku. Ia mengatakan bahwa ia masih berharap bahwa yang bertunangan dengan
Cakka adalah aku, bukan Sivia. Tapi aku sudah tak dapat mengubah. Dan sekarang
acara pertukaran cincin. Cakka melirik sekilas kearahku. Ia telah siap
memasangkan cincin ke jemari Sivia. Air mataku tak dapat ku tahan lagi. Hatiku
tak siap melihat kejadian ini. Kak Shilla yang berdiri disampingku merangkul ku
dengan erat. Hingga akhirnya Cakka menarik lagi tangannya dan menggeleng. Dan
pertama kali yang pernah ku lihat ia menangis didepan umum. Semua tamu menatap
bingung.
"Sorry, Vi. Aku gak
bisa."
"Udah aku duga, Kka. Aku
yang minta kak Agni untuk mengundang Fy." Aku terpaku saat Sivia menyebut
namaku.
"Fy, aku udah tahu
semuanya. Dan sekarang, aku mohon gantiin posisiku. Cakka hanya mencintai kamu
dan bukan aku. Dia hanya menginginkan kamu."
"Ta.. Tapi kamu,
Vi?"
"Kamu udah pernah
berkorban untuk aku, sekarang giliran aku. Lagipula percuma aku memilikki
raganya tapi bukan hatinya. Maafin aku yang pernah ngerusak hubungan kalian.
Maafin aku udah ngelukai hati kamu, Fy."
Aku menatap kak Agni, kak
Shilla, Om, Tante, Cakka dan Sivia dan akhirnya aku berjalan pelan kearah Cakka
dan Sivia. Sesampainya aku langsung ditarik dalam dekapan Cakka dan tak dapat
ku tahan lagi aku menumpahkan tangisanku dalam pelukkannya.
"I love you, Fy. I'm
sorry."
"Harusnya aku yang minta
maaf, Kka. Sorry. I love you too, Kka."
"Sorry dan thanks,
Via." Aku beralih memeluk Sivia.
"Thanks ya, Vi."
Terdengar suara Cakka dari belakangku.
"Harusnya aku yang sorry
sama kamu, Fy. Maaf udah ngelukai hati kamu yang baik kayak gini. Semoga
bahagia ya sama Cakka."
"Kamu juga pasti bisa
dapat yang lebih baik dari Cakka, Vi. Yang cinta sama kamu apa adanya."
"Thanks, Fy."
"Dan hari ini aku
mengganti pertunanganku dengan Cakka menjadi pertunangan Ify dengan Cakka."
Cakka pun memakaikan cincin
ke jemariku dan setelahnya giliranku yang memakaikan cincin ke jemarinya.
Dan lagi, ia menarikku ke
dekapannya.
"Don't ever leave me
again. Never." Bisiknya.
"I promise."
Dan aku percaya, Tuhan telah
menyiapkan sebuah kebahagiaan di akhir cerita kami. Aku telah berjanji dalam
hatiku tak akan pernah lagi menyakiti hatinya dan tak akan pernah lagi
meninggalkannya. Aku sangat mencintainya dan aku tahu aku akan sangat hancur
jika aku kehilangannya lagi. I love you, Cakka.
Sherrr, quote-quote di cerita kamu bagus-bagus yaaaah!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!!
ReplyDeleteGak juga kok.-. Tp thanks ya bun :*
Delete