Saturday, April 4, 2015

The Other Self

Hey guys. Balik lagi sama cerpen abal-abalku. Sebenernya ini sekalian curhat. Hehe. Yaudah deh langsung aja ya. Maaf kalo ada typo .-.v Kritik dan comment sangat di perlukan.
The Other Self
Aku berjalan menyusuri koridor yang mengarahkan aku menuju kelasku. Tatapan semua orang mengarah padaku yang ku balas dengan tampang datarku. Aku menghempaskan diriku terduduk di kursiku. Ku arahkan pandanganku ke sekitar kelas. Ada kelompok cowok-cowok dan salah satu kelompok cewek yang berisikan Ify, Irva, Via, Zevana, dan Dea di barisan kiri. Sedangkan di barisan kanan ada salah satu kelompok cewek yang berisikan Gita, Aren, Keke, Acha, dan Angel. Ada juga musuhku Oik yang duduk bersama Rahmi di depan mereka. Sedangkan di belakangku adalah kelompok cewek-cewek populer. Sejenak, aku menatap ke arah Alvin, kekasihku. Tatapannya terasa meneduhkanku. Ya siapa yang mau berteman dengan gadis sepertiku? Muram dan tak peduli. Ya sejujurnya aku yang menjauhi mereka, mendirikan dinding tebal di antara aku dan mereka. Aku mengeluarkan buku biruku dan mulai menulis. Terkesan nerd bukan? Ya begitulah. Tinta hitam dari pulpenku mulai ku goreskan ke lembaran demi lembaran di buku ku. Beginilah aku melewati pagiku. Disaat mereka tertawa bahagia atas hal-hal yang aneh dan aku hanya tersenyum sinis di kursiku. Social life is such a bullshit. Lebih baik menyendiri
"Shil." Aku menoleh ke depan. Dia adalah salah satu orang dari dua orang yang dapat berbicara denganku. Aku menoleh dan tersenyum.
"Udah sampai chapter berapa Shil?" Tanyanya melihatku kembali menulis ceritaku.
"Chapter 11. Chase udah hampir ketangkap loh, Zah."
"Kalau udah selesai tulis aku baca ya." Ia memandangku seraya mengedipkan matanya membuatku tertawa kecil.
"Siap mama." Balasku meledeknya.
----------
"Shil. Sabtu ada waktu? Debo mengajak The Alayers buat nongkrong bareng." Suara itu keluar dari Ify. Teman sebelahku. Ucapan itu melengkungkan bibirku membentuk selengkung senyuman sinis.
"Nona Trifia yang terhormat, aku bukan anggota The Alayers lagi okay?"
"Shil please lah."
"Kamu dan Debo yang merubahku menjadi seperti ini." Aku berdiri meminta izin untuk ke toilet. Sungguh aku muak dengan hidup aku.
The Alayers kelompok persahabatan yang dulunya berisikan aku, Ify, Agni, Alvin, Debo, Rio. Tapi Ify dan Debo kemudian membuat aku memutuskan bahwa aku bukanlah lagi bagian dari The Alayers. Mereka juga lah alasan dibalik sifat dinginku.
Sepanjang waktu di sekolah adalah waktu neraka bagiku. Waktu yang membuatku harus menahan gejolak emosi dalam diriku.
"Shil. Mau pulang bareng?" Alvin menawariku.
"Aku dijemput kakak, Vin. Tapi aku butuh kamu. Nanti sore aku ke rumahmu.".
"Baiklah. Aku tunggu." Ia mengacak rambutku lembut. Dia yang membuat aku merasakan kasih sayang yang tak kurasakan dari yang lainnya. Ia menarikku ke dalam rangkulannya, berbisik pelan, "I know you're strong, girl. And I want you to know that you'll always have my back."
"Thanks, Vin." Aku menggenggam tangannya erat seolah tak ingin melepaskannya. Aku mengantarnya sampai ke parkiran motor dan berpisah disana.
"Bye, Vin. Be careful. I love you."
"I love you too."
----------
Sore harinya aku telah sampai dirumah Alvin. Ia bukan hanya sosok seorang kekasih, tetapi juga koko dan sahabat. Aku beruntung memilikkinya yang selalu sabar dengan sikapku. Setiap aku merasakan kesedihan dia pasti ada untukku. Seperti saat ini misalnya.
"Shil, kamu gak capek? Kamu gak sakit gini terus? Aku tahu ini beneran bukan kamu. Mau segimanapun kamu nutupin, kamu tetaplah kamu yang care, yang peduli." Alvin berujar pelan, membelai rambutku lembut.
"Kamu aja yang nggak percaya aku. Yang lain juga tahu sekarang aku ini cuma cewek ngeselin dan gak peduli satu sama lain." Aku membalasnya ringan.
"Itu mereka? Orang bodoh yang mengira mereka mengenalmu tetapi tidak. Shil. Kamu dulu gak kayak gini dan aku yakin dulu adalah pribadi kamu yang sebenarnya." Aku merebahkan kepalaku di kakinya. Memejamkan mata dan menghela nafas.
"Kamu sendiri tahu apa yang membuatku seperti ini, Vin." Ku coba menekan emosiku, mencegah jatuhnya air mata. Tak lagi-lagi aku merepotkannya dengan tangisanku. Jujur saja iya. Aku perih, menjadi diri yang sebenarnya bukan lah aku, aku perih.
"Kamu gak mau berbaikkan dan kembali seperti dulu?" Tanya Alvin pelan. Aku lagi-lagi tersenyum sinis.
"Buat apa?" Aku tertawa hambar, "aku pernah peduli tapi kemudian kepedulianku tak dihargai sama sekali. Dan malah dianggap salah, mungkin lebih baik menjadi orang cuek. Lagi pula aku sudah bilang, aku tak akan memulai sebelum Debo yang meminta maaf padaku. Lagi pula kalaupun dia minta maaf aku tak yakin dia akan menerima maaf dari ku."

-Flashback-
"Deb! Baca nih chat aku sama Ify! Puas?!! Sorry aku gak bisa sopan lagi sama kamu! Aku udah pernah bilang jangan pernah nyakitin Ify! Ify sayang sama kamu sekarang apa balasan kamu?! Cuma bisa bikin dia nangis! Asal kamu tahu ya dia tuh tegar. Sebelum pacaran dia gak pernah nangis sesering sekarang! Bisa ngertiin dia gak sih woi!! Cowok macam apa sih nyakitin cewek terus?!!!" Bentakku pada Debo. Udah cukup aku melihat Ify nangis. Aku tak bisa.
"Shil. Udah lah cukup." Ify terus menarik tanganku untuk menjauh dari Debo. Tak habis pikir dengannya. Cewek setegar dia bisa lemah cuma gara-gara cowok kayak gini.
"Kalau bukan karena Ify, udah ku pastikan kamu akan dendam dengan kata-kataku yang mengoyak hatimu?" Aku menunjuk-nunjuk kearahnya sesaat sebelum meninggalkannya.
"Nih Deb. Cuma mau kasi lihat ini. Gak mau ngomel kok. Cuma mau nunjukkin ke kamu seberapa terlukanya Ify. Aku pulang dulu." Aku menyerahkan lembaran hasil print screenshot chat aku dengan Ify. Tertulis bahwa Ify sakit dan lelah dengan perlakuan Debo tetapi masih tak rela melepasnya. Setelah menyerahkannya, aku berjalan pulang. Memang jarak rumahku ke rumah Debo tak jauh. Hanya terpisah beberapa blok.
Tak lama kemudian dering handphone-ku mendendangkan lagu Little Things-nya One Direction. Lagu favorite aku dan Ify dari boyband One Direction. Tertera nama Ify️ di layar handphone-ku.
"Hallo."
"Shil"
"Ya?"
"Please jangan marahin dia, aku minta tolong. Biarin aja."
"Aku nggak marahin dia kok."
"Dia udah kasi aku penjelasan. Gak usah chat dia."
"Okay okay. Kalau ada apa-apa lagi gak usah cari aku. Percuma. Niat baik aku gak di hargai. Dianggap salah terus."
"Bukan gitu. Aku curhat ke kamu cuma untuk kamu tahu. Bukan untuk di apa-apain. Kamu bilang temen harus saling tahu kan? Dan gak ada rahasia diantara kita."
"Terserah"
*klik*
Aku memutuskan koneksiku dengan Ify. Menghela nafas berat. Dia tak mengerti aku menyayanginya. Membelanya untuk kebaikkannya dan tak dihargai. Terserah dia saja. Ah. Alvin belum bangun. Lebih baik aku baca novel saja.
Tak lama kemudian Alvin line aku.
-----
Alvin
·         Pagii shillonggkuuu
·         Oh ya nih Ify suruh aku sampaiin itu
·         Tolong blg ke shilla klo aku bukan nggak hargain bantuan dia. selama ini aku curhat ke dia cuma ingin dia tau. krn aku tau klo sahabatan itu ga ada yg namanya rahasia. klo masalah itu ditanggung bersama. sama" sedih, sama" senang. aku bukan gmn larang dia chat Debo, cuma tau kan klo shilla chat org klo udh marah sma org tu bikin sakit hati. Debo jg udh jelasin ke aku dan aku udh coba untuk lebih mengerti. jadi tolong blg ke shilla dlm waktu kyk gini tolong jangan chat debo dlu. beri dia waktu, dia capek. kasian dia
Keyshilla
ü  Aku uda tau kok Vin. Td dia chat aku. Sngja gak ku baca. Males. Slalu salah.
-----
Aku beralih membuka chat line Ify.

Keyshilla
ü  Km blg aku mrh bikin sakit hati? Aku sm skli ga marah sm dia. Apadeh. Salah mulu perasaan. Terserah kamu la urus aja mslh km sndri. Ga ikut cmpur lg. Slalu salah akunya.
Trifia
·         Gatau laa shil.
·         Aku ga prnh blg km yg slh. Km sndri ygvslalu mrasa.
Keyshilla
ü  Emg dgn kyk gini ga nunjukkin? Ga ada marah debo tb" blg gausa marahin debo. Aku kyk gni demi siapa? Kamu. Ak syg sm km gamau km sakit hati trus krna dia. Karna km shbt aku dan dia bkn.
Trifia
·         Aku tau
·         Aku gatau kamu marah dia atau ngga
·         Tp aku cm mnta tlg sm km skg dibiarin aja la
Keyshilla
ü  Tp km uda nuduh duluan. Emgny ga skit hati. Klo ak ga gtu artinya ak ud g pduli sm km Fy
Trifia
·         Apa yg ak omongin sm apa yg km omongin jg psti beda.
Keyshilla
ü  Eh aku cm krim screenshot line kita ya. Gk ku tambah"in. Kok fitnah bgt sih. Smua yg aku krimin itu screenshot kita Fy. Tuhkan lihat. Aku yg slalu salah buat km!
Trifia
·         Km ga salah
·         Ak cm mnta satu hal ini aku bnr" mohon sm km
·         Aku hargain apa yg km ud buat utk ak. Km syg sm ak. Km pduli sm ak. Ga ada shbt lain yg smpe sgininya buat aku
Keyshilla
ü  Whatever la fy. Jadi org yg peduli salah jangan salahin aku klo aku sampe cuek setelah ini. Klo sampe aku ga pduli lg sm sekitar aku itu bukan salah aku. Tp karna km yg mnta aku buat ga pduli
Trifia
·         Mulai skg klo ada mslh aku akan coba buat selesaiin sendiri.
·         Aku ga akan repotin km lg.
Keyshilla
ü  Baguslah
ü  Karna aku jg capek jd org yg trlalu pduli
Trifia
·         Makasi slama ini ud bntu aku
·         Klo km ada mslh ak akan slalu ad buat km
-----
-flashback end-
"Kenapa?" Alvin bertanya saat merasakan nafasku mulai menderu.
"Semua itu begitu drastis, Vin. Dalam waktu sehari aku berubah. Dan ya. Aku nyaman sama aku yang sekarang. Kadang terasa menyakitkan untuk menjadi seorang yang bukan pribadi asli dari diri kita. Tapi ini lebih baik daripada menjadi peduli dan gak di hargai dan dianggap salah. Lebih sakit lagi. Lebih melelahkan. Aku bisa jalanin hidup seperti ini. It's about our decision. Kalau aku lebih pilih seperti ini, maka aku yakin aku pun akan lebih senang jika seperti ini. Selama aku masih ada kamu, Agni, dan Zahra, it's enough."
"Shil. Aku dukung apapun keputusanmu. Kamu hanya perlu tahu satu hal. Aku, Alvinathan Xavier akan selalu disini, gak akan pernah ninggalin kamu." Ia tersenyum menatap mataku, meyakinkanku dengan semua perkataannya.
"Promise me?"
"Promise you."
Aku terduduk dan langsung mendekapnya erat. Begitu erat.
Ia mengecup keningku sejenak.
"I love you, Keyshilla Damanic."
"I love you too, Alvinathan Xavier."
"And I love you more."
Mungkin bagi seluruh dunia, aku adalah Shilla yang berbeda dari sebelumnya. Aku yang sekarang adalah Shilla yang cuek, sinis, tak peduli dengan apapun, dan dingin. Tapi bagi orang-orang terdekatku, aku masih Shilla yang dulu. Shilla yang penyayang, ceria, supel, enak diajak bergaul. Hanya saja hal yang terjadi di dalam hidupku mampu merubahku menjadi seperti ini. Kekecewaan menjadi orang yang selalu disalahkan membuat Shilla yang hangat menjadi Shilla yang dingin. Shilla yang tersenyum tulus menjadi Shilla yang tersenyum sinis.
Bagiku, kekecewaan mampu merubah siapa saja. Aku, kau, dia, mereka, kita, dan semua orang. Merubah pribadi yang baik menjadi yang buruk seperti yang terjadi padaku. Siapa yang tidak tahu apa yang terjadi maka akan men-judge aku. Tapi orang yang setia padaku, orang yang tahu cerita dibalik pribadiku yang sekarang, orang yang mampu mengertiku, adalah orang-orang yang paham bahwa aku berubah karena hal yang mengecewakanku.
Kuantitas bukanlah hal yang penting dalam pertemanan. Tapi kualitas lah hal yang penting. Tak butuh banyak orang yang selalu menyalahkanku dan tidak mengerti bagaimana caraku menyayangi mereka, lebih baik bersama sedikit orang yang mengerti caraku menyayangi. Cara setiap orang untuk menyayangi sesama tidak lah sama. Hargai lah orang yang menyayangimu, sebelum ia menjadi dingin dan tak peduli lagi padamu.
“Vin, do you believe that I really love them?”
Yup. I do believe you. Mungkin cara kamu yang berbeda, yang frontal, yang membuat mereka berpikir bahwa kamu tak menyayangi mereka. Tapi jujur saja, menurutku, caramu menyayangi kami semua lebih dari cara semua orang. Kamu bersikap keras, tapi semua orang, yang bisa mengertinya tentu saja, akan paham kalau kamu sayang sama kami.” Ia mengacak rambutku pelan, memelukku erat, mengerti aku membutuhkan dukungan.
Thanks Alvin. I love you.”
“Sudah ku bilang I love you more.”
No, I love you more.”
I love you more, ihhh Alvin.”
No.. I love you moreee
“Iyadeh Shilla ngalah.”
“Gitu dong Shillongku.” Ia memelukku erat dan mengecup pipi kananku.

See. Kualitas melebihi kuantitas. Aku bisa bahagia meskipun yang ada untukku hanya Alvin, Zahra dan Agni. Aku percaya mereka takkan mengecewakanku seperti Ify. Aku yakin itu.

---
Ini cerita ngebet dah. kalau gak jelas wajar. dari pengalaman pribadi :p Comment dan kritik ya. bisa juga ke twitter @SherlSherlen. thankyouu