Hey guys. Balik lagi sama cerpen
abal-abalku. Sebenernya ini sekalian curhat. Hehe. Yaudah deh langsung aja ya.
Maaf kalo ada typo .-.v Kritik dan comment sangat di perlukan.
The Other Self
Aku berjalan menyusuri
koridor yang mengarahkan aku menuju kelasku. Tatapan semua orang mengarah
padaku yang ku balas dengan tampang datarku. Aku menghempaskan diriku terduduk
di kursiku. Ku arahkan pandanganku ke sekitar kelas. Ada kelompok cowok-cowok
dan salah satu kelompok cewek yang berisikan Ify, Irva, Via, Zevana, dan Dea di
barisan kiri. Sedangkan di barisan kanan ada salah satu kelompok cewek yang
berisikan Gita, Aren, Keke, Acha, dan Angel. Ada juga musuhku Oik yang duduk
bersama Rahmi di depan mereka. Sedangkan di belakangku adalah kelompok
cewek-cewek populer. Sejenak, aku menatap ke arah Alvin, kekasihku. Tatapannya
terasa meneduhkanku. Ya siapa yang mau berteman dengan gadis sepertiku? Muram
dan tak peduli. Ya sejujurnya aku yang menjauhi mereka, mendirikan dinding
tebal di antara aku dan mereka. Aku mengeluarkan buku biruku dan mulai menulis.
Terkesan nerd bukan? Ya begitulah.
Tinta hitam dari pulpenku mulai ku goreskan ke lembaran demi lembaran di buku
ku. Beginilah aku melewati pagiku. Disaat mereka tertawa bahagia atas hal-hal
yang aneh dan aku hanya tersenyum sinis di kursiku. Social life is such a bullshit. Lebih baik menyendiri
"Shil." Aku
menoleh ke depan. Dia adalah salah satu orang dari dua orang yang dapat
berbicara denganku. Aku menoleh dan tersenyum.
"Udah sampai chapter berapa Shil?" Tanyanya
melihatku kembali menulis ceritaku.
"Chapter 11. Chase udah hampir ketangkap
loh, Zah."
"Kalau udah selesai
tulis aku baca ya." Ia memandangku seraya mengedipkan matanya membuatku
tertawa kecil.
"Siap
mama." Balasku meledeknya.
----------
"Shil. Sabtu ada
waktu? Debo mengajak The Alayers buat
nongkrong bareng." Suara itu keluar dari Ify. Teman sebelahku. Ucapan itu
melengkungkan bibirku membentuk selengkung senyuman sinis.
"Nona Trifia yang
terhormat, aku bukan anggota The Alayers
lagi okay?"
"Shil please lah."
"Kamu dan Debo yang
merubahku menjadi seperti ini." Aku berdiri meminta izin untuk ke toilet.
Sungguh aku muak dengan hidup aku.
The Alayers
kelompok persahabatan yang dulunya berisikan aku, Ify, Agni, Alvin, Debo, Rio.
Tapi Ify dan Debo kemudian membuat aku memutuskan bahwa aku bukanlah lagi
bagian dari The Alayers. Mereka juga lah alasan dibalik sifat dinginku.
Sepanjang waktu di
sekolah adalah waktu neraka bagiku. Waktu yang membuatku harus menahan gejolak
emosi dalam diriku.
"Shil. Mau pulang
bareng?" Alvin menawariku.
"Aku dijemput kakak,
Vin. Tapi aku butuh kamu. Nanti sore aku ke rumahmu.".
"Baiklah. Aku
tunggu." Ia mengacak rambutku lembut. Dia yang membuat aku merasakan kasih
sayang yang tak kurasakan dari yang lainnya. Ia menarikku ke dalam
rangkulannya, berbisik pelan, "I
know you're strong, girl. And I want you to know that you'll always have my
back."
"Thanks, Vin."
Aku menggenggam tangannya erat seolah tak ingin melepaskannya. Aku mengantarnya
sampai ke parkiran motor dan berpisah disana.
"Bye, Vin. Be careful. I love you."
"I love you too."
----------
Sore harinya aku telah sampai dirumah Alvin. Ia bukan hanya sosok seorang kekasih, tetapi juga koko dan sahabat. Aku beruntung memilikkinya yang selalu sabar dengan sikapku. Setiap aku merasakan kesedihan dia pasti ada untukku. Seperti saat ini misalnya.
"Shil, kamu gak capek? Kamu gak sakit gini terus? Aku tahu ini beneran bukan kamu. Mau
segimanapun kamu nutupin, kamu tetaplah kamu yang care, yang peduli." Alvin berujar pelan, membelai rambutku
lembut.
"Kamu aja yang nggak
percaya aku. Yang lain juga tahu sekarang aku ini cuma cewek ngeselin dan gak peduli satu sama lain." Aku
membalasnya ringan.
"Itu mereka? Orang
bodoh yang mengira mereka mengenalmu tetapi tidak. Shil. Kamu dulu gak kayak gini dan aku yakin dulu adalah
pribadi kamu yang sebenarnya." Aku merebahkan kepalaku di kakinya.
Memejamkan mata dan menghela nafas.
"Kamu sendiri tahu
apa yang membuatku seperti ini, Vin." Ku coba menekan emosiku, mencegah
jatuhnya air mata. Tak lagi-lagi aku merepotkannya dengan tangisanku. Jujur
saja iya. Aku perih, menjadi diri yang sebenarnya bukan lah aku, aku perih.
"Kamu gak mau berbaikkan dan kembali seperti
dulu?" Tanya Alvin pelan. Aku lagi-lagi tersenyum sinis.
"Buat apa?" Aku
tertawa hambar, "aku pernah peduli tapi kemudian kepedulianku tak dihargai
sama sekali. Dan malah dianggap salah, mungkin lebih baik menjadi orang cuek.
Lagi pula aku sudah bilang, aku tak akan memulai sebelum Debo yang meminta maaf
padaku. Lagi pula kalaupun dia minta maaf aku tak yakin dia akan menerima maaf
dari ku."
-Flashback-
"Deb! Baca nih chat aku sama Ify! Puas?!! Sorry aku gak bisa sopan lagi sama kamu!
Aku udah pernah bilang jangan pernah nyakitin Ify! Ify sayang sama kamu
sekarang apa balasan kamu?! Cuma bisa bikin dia nangis! Asal kamu tahu ya dia
tuh tegar. Sebelum pacaran dia gak
pernah nangis sesering sekarang! Bisa ngertiin dia gak sih woi!! Cowok macam
apa sih nyakitin cewek terus?!!!" Bentakku pada Debo. Udah cukup aku
melihat Ify nangis. Aku tak bisa.
"Shil. Udah lah cukup." Ify terus menarik
tanganku untuk menjauh dari Debo. Tak habis pikir dengannya. Cewek setegar dia
bisa lemah cuma gara-gara cowok kayak gini.
"Kalau
bukan karena Ify, udah ku pastikan kamu akan dendam dengan kata-kataku yang
mengoyak hatimu?" Aku menunjuk-nunjuk kearahnya sesaat sebelum
meninggalkannya.
"Nih Deb. Cuma mau
kasi lihat ini. Gak mau ngomel kok.
Cuma mau nunjukkin ke kamu seberapa terlukanya Ify. Aku pulang dulu." Aku
menyerahkan lembaran hasil print
screenshot chat aku dengan Ify. Tertulis bahwa Ify sakit dan lelah dengan
perlakuan Debo tetapi masih tak rela melepasnya. Setelah menyerahkannya, aku
berjalan pulang. Memang jarak rumahku ke rumah Debo tak jauh. Hanya terpisah
beberapa blok.
Tak lama kemudian dering handphone-ku mendendangkan lagu Little Things-nya One Direction. Lagu favorite
aku dan Ify dari boyband One Direction.
Tertera nama Ify❤️
di layar handphone-ku.
"Hallo."
"Shil"
"Ya?"
"Please jangan marahin dia, aku minta
tolong. Biarin aja."
"Aku nggak marahin dia kok."
"Dia udah kasi aku
penjelasan. Gak usah chat dia."
"Okay okay. Kalau ada apa-apa lagi gak usah cari aku. Percuma. Niat baik
aku gak di hargai. Dianggap salah
terus."
"Bukan gitu. Aku
curhat ke kamu cuma untuk kamu tahu. Bukan untuk di apa-apain. Kamu bilang
temen harus saling tahu kan? Dan gak ada rahasia diantara kita."
"Terserah"
*klik*
Aku memutuskan koneksiku
dengan Ify. Menghela nafas berat. Dia tak mengerti aku menyayanginya.
Membelanya untuk kebaikkannya dan tak dihargai. Terserah dia saja. Ah. Alvin
belum bangun. Lebih baik aku baca novel saja.
Tak lama kemudian Alvin line aku.
-----
Alvin
·
Pagii
shillonggkuuu
·
Oh
ya nih Ify suruh aku sampaiin itu
·
Tolong
blg ke shilla klo aku bukan nggak hargain bantuan dia. selama ini aku curhat ke
dia cuma ingin dia tau. krn aku tau klo sahabatan itu ga ada yg namanya
rahasia. klo masalah itu ditanggung bersama. sama" sedih, sama"
senang. aku bukan gmn larang dia chat Debo, cuma tau kan klo shilla chat org
klo udh marah sma org tu bikin sakit hati. Debo jg udh jelasin ke aku dan aku
udh coba untuk lebih mengerti. jadi tolong blg ke shilla dlm waktu kyk gini
tolong jangan chat debo dlu. beri dia waktu, dia capek. kasian dia
Keyshilla
ü Aku uda tau kok Vin. Td dia chat aku.
Sngja gak ku baca. Males. Slalu salah.
-----
Aku beralih membuka chat line Ify.
Keyshilla
ü Km blg aku mrh bikin sakit hati? Aku
sm skli ga marah sm dia. Apadeh. Salah mulu perasaan. Terserah kamu la urus aja
mslh km sndri. Ga ikut cmpur lg. Slalu salah akunya.
Trifia
·
Gatau
laa shil.
·
Aku
ga prnh blg km yg slh. Km sndri ygvslalu mrasa.
Keyshilla
ü Emg dgn kyk gini ga nunjukkin? Ga ada
marah debo tb" blg gausa marahin debo. Aku kyk gni demi siapa? Kamu. Ak
syg sm km gamau km sakit hati trus krna dia. Karna km shbt aku dan dia bkn.
Trifia
·
Aku
tau
·
Aku
gatau kamu marah dia atau ngga
·
Tp
aku cm mnta tlg sm km skg dibiarin aja la
Keyshilla
ü Tp km uda nuduh duluan. Emgny ga skit
hati. Klo ak ga gtu artinya ak ud g pduli sm km Fy
Trifia
·
Apa
yg ak omongin sm apa yg km omongin jg psti beda.
Keyshilla
ü Eh aku cm krim screenshot line kita
ya. Gk ku tambah"in. Kok fitnah bgt sih. Smua yg aku krimin itu screenshot
kita Fy. Tuhkan lihat. Aku yg slalu salah buat km!
Trifia
·
Km
ga salah
·
Ak
cm mnta satu hal ini aku bnr" mohon sm km
·
Aku
hargain apa yg km ud buat utk ak. Km syg sm ak. Km pduli sm ak. Ga ada shbt
lain yg smpe sgininya buat aku
Keyshilla
ü Whatever la fy. Jadi org yg peduli
salah jangan salahin aku klo aku sampe cuek setelah ini. Klo sampe aku ga pduli
lg sm sekitar aku itu bukan salah aku. Tp karna km yg mnta aku buat ga pduli
Trifia
·
Mulai
skg klo ada mslh aku akan coba buat selesaiin sendiri.
·
Aku
ga akan repotin km lg.
Keyshilla
ü Baguslah
ü Karna aku jg capek jd org yg trlalu
pduli
Trifia
·
Makasi
slama ini ud bntu aku
·
Klo
km ada mslh ak akan slalu ad buat km
-----
-flashback end-
"Kenapa?" Alvin
bertanya saat merasakan nafasku mulai menderu.
"Semua itu begitu
drastis, Vin. Dalam waktu sehari aku berubah. Dan ya. Aku nyaman sama aku yang
sekarang. Kadang terasa menyakitkan untuk menjadi seorang yang bukan pribadi
asli dari diri kita. Tapi ini lebih baik daripada menjadi peduli dan gak di hargai dan dianggap salah. Lebih
sakit lagi. Lebih melelahkan. Aku bisa jalanin hidup seperti ini. It's about our decision. Kalau aku lebih
pilih seperti ini, maka aku yakin aku pun akan lebih senang jika seperti ini. Selama
aku masih ada kamu, Agni, dan Zahra, it's
enough."
"Shil. Aku dukung
apapun keputusanmu. Kamu hanya perlu tahu satu hal. Aku, Alvinathan Xavier akan
selalu disini, gak akan pernah
ninggalin kamu." Ia tersenyum menatap mataku, meyakinkanku dengan semua
perkataannya.
"Promise me?"
"Promise you."
Aku terduduk dan langsung
mendekapnya erat. Begitu erat.
Ia mengecup keningku
sejenak.
"I love you, Keyshilla Damanic."
"I love you too, Alvinathan Xavier."
"And I love you more."
Mungkin bagi seluruh
dunia, aku adalah Shilla yang berbeda dari sebelumnya. Aku yang sekarang adalah
Shilla yang cuek, sinis, tak peduli dengan apapun, dan dingin. Tapi bagi
orang-orang terdekatku, aku masih Shilla yang dulu. Shilla yang penyayang,
ceria, supel, enak diajak bergaul. Hanya saja hal yang terjadi di dalam hidupku
mampu merubahku menjadi seperti ini. Kekecewaan menjadi orang yang selalu
disalahkan membuat Shilla yang hangat menjadi Shilla yang dingin. Shilla yang
tersenyum tulus menjadi Shilla yang tersenyum sinis.
Bagiku, kekecewaan mampu
merubah siapa saja. Aku, kau, dia, mereka, kita, dan semua orang. Merubah pribadi
yang baik menjadi yang buruk seperti yang terjadi padaku. Siapa yang tidak tahu
apa yang terjadi maka akan men-judge
aku. Tapi orang yang setia padaku, orang yang tahu cerita dibalik pribadiku
yang sekarang, orang yang mampu mengertiku, adalah orang-orang yang paham bahwa
aku berubah karena hal yang mengecewakanku.
Kuantitas bukanlah hal
yang penting dalam pertemanan. Tapi kualitas lah hal yang penting. Tak butuh banyak orang yang selalu
menyalahkanku dan tidak mengerti bagaimana caraku menyayangi mereka, lebih baik
bersama sedikit orang yang mengerti caraku menyayangi. Cara setiap orang untuk
menyayangi sesama tidak lah sama. Hargai
lah orang yang menyayangimu, sebelum
ia menjadi dingin dan tak peduli lagi padamu.
“Vin, do you believe that I really love them?”
“Yup. I do believe you. Mungkin cara kamu yang berbeda, yang
frontal, yang membuat mereka berpikir bahwa kamu tak menyayangi mereka. Tapi jujur
saja, menurutku, caramu menyayangi kami semua lebih dari cara semua orang. Kamu
bersikap keras, tapi semua orang, yang bisa mengertinya tentu saja, akan paham
kalau kamu sayang sama kami.” Ia mengacak rambutku pelan, memelukku erat,
mengerti aku membutuhkan dukungan.
“Thanks Alvin. I love you.”
“Sudah ku bilang I love you more.”
“No, I love you more.”
“I love you more, ihhh Alvin.”
“No.. I love you moreee”
“Iyadeh Shilla ngalah.”
“Gitu dong Shillongku.” Ia
memelukku erat dan mengecup pipi kananku.
See.
Kualitas melebihi kuantitas. Aku bisa bahagia meskipun yang ada untukku hanya
Alvin, Zahra dan Agni. Aku percaya mereka takkan mengecewakanku seperti Ify. Aku
yakin itu.
---
Ini cerita ngebet dah. kalau gak jelas wajar. dari pengalaman pribadi :p Comment dan kritik ya. bisa juga ke twitter @SherlSherlen. thankyouu